Semua berawal dari yang namanya skripsi, skripsi yang membuatku selalu tersenyum manis, ku bahagia saat mengerjakannya, meskipun selalu ada kekurangannya tapi ku tetap bahagia dalam mengerjakannya, yang mengajariku banyak hal, tentang cinta, kasih sayang, pola asuh, kepercayaan diri, dan bagaimana cara menghadapi orang tua. Yang ingin ku sharing-kan disini pada saat aku sudah bab 3, sampailah aku pada menyebar yang namanya skala, di awal ku bingung bagaimana caranya agar skala ini bisa terisi semuanya, kalau rewardnya hanya coklat yang manis, yang seharga 2000 an pasti dalam hati si ibu-ibu pasti gerendeng (kesal) ajah karena kuesionerku berjumlah 193 butir soal, yang sebenarnya saya sendiri malas mengerjakannya, tapi ku harus berfikir bagaimana seharusnya aku bisa melewati ini semua, dan perasaan ibu-ibu yang mengisinya merasakan kebahagiaan dengan hadiah yang ku berikan. Awalnya ku tak percaya diri untuk memberikan apapun ke ibu-ibu, hingga akhirnya mentok ku berikan snack yang bernilai 5000 ku bagikan ke mereka, tapi apakah hanya snack yang seharga 5000 bisa membuat mereka bahagia. Yaah yang namanya ibu-ibu berorientasi lebih ketika mereka harus bekerja mengisi kuesioner. Masih bingung ku dibuatnya dengan kuesioner yang banyak itu. Ku berfikir, ku mempunyai kemampuan memberikan pelatihan ke orang lain, tapi apakah aku mampu membawakannya ke ibu-ibu dan apalagi yang ku isi adalah materi tentang pengasuhan. Ya Allah ku harus gimana ? kalau tidak di coba tak mungkin ada hasil, ku coba memberanikan diri mengisi pelatihan ibu-ibu dengan memberikan mereka snack seharga 5000 per orangnya. Ku kira, ku akan berhasil membuat ibu-ibu senang mengisi kuesionernya, tapi ternyata hasilnya sangat berantakan, tak ada satupun kuesioner yang selesai. Ku makin tak yakin dengan skripsiku, banyak cemoohan yang ku dengar disana pada saat pelatihan berlangsung “hanya ngomong doang”, “itu kan teori”, “kamu kan belum pernah merasakan jadi orang tua”, beuuuh kata-kata yang membunuh banyak bener pada saat itu. Dua minggu ku di rumah saja, memikirkan kata ibu-ibu pada saat pelatihan hypnoparenting yang baru pertama kali ku membawakannya. Bingung, cemas, dan emosi negative lainnya ku rasakan pada saat itu, dan ku harus tetap berjuang. Modal sudah besar tapi hasilnya gak ada. Dari situ ku belajar bagaimana tampil lebih baik lagi. Ku memutuskan tuk mencoba lagi mencari TK, di awal mereka sangat ragu dengan kedatanganku, ku mau memberikan materi pengasuhan tapi ku sendiri masih mahasiswa, setelah ku ngobrol panjang akhirnya pulang dengan senang hati, ku diperbolehkan memberikan penelitian dan sebagai hadiahnya pelatihan dari ku. Ku lebih percaya diri, aku tak mau memberikan konsumsi pada sekolah, biar sekolah yang menyediakannya. Ternyata aku tak percaya, bahwa pada saat pelatihan yang ke dua aku berhasil jauh lebih baik, dari pada yang pertama, pada pelatihan itu ada canda tawa, tangis, senang, senyum, bahkan ada yang sampai teriak menyesali perbuatannya, dan lebih dari itu yang aku bangga dengan diriku sendiri karena mereka mau untuk berubah dari pengasuhan yang menggunakan kekerasan menjadi dengan kasih sayang dan lebih humanis lagi. Ku tak percaya aku melakukan yang lebih baik lagi pada pelatihan yang ke tiga, ke empat, dst kuesioner terisi seluruhnya dan aku merasakan kebahagiaan mengisi pelatihan. Aku sendiri tak percaya bahwa aku yang berumur 22 tahun mampu melakukan pelatihan parenting, yang aku sendiri belum pernah mengalaminya, menjawab dengan penuh keyakinan pertanyaan dari ibu-ibu, yang mereka merasakan kepuasan tersendiri setelah ku jawab pertanyaannya, “kepala mereka mangguk-mangguk dan mengatakan ahaaa kenapa ngga dari dulu saya melakukan hal seperti ini”. Mungkin sekarang aku lah trainer parenting termuda di Indonesia bahkan di dunia. Makasih buat bu Yanti, Pak Rahmat Mulyono.