https://i1.wp.com/4.bp.blogspot.com/_pudwHvwQCig/TNoHalvmbgI/AAAAAAAAAAQ/O5Yvnej4hcA/s1600/love.jpg

Di Kota Pontianak Irma dilahirkan, di kota yang masih bersih udaranya, pepohonan masih rindang, dan jalan yang masih lengang, keluarga Irma berasal dari keluarga santri, bapak-ibunya adalah kyai di pesantren Al-Yasiin, beberapa santrinya yang tidak mampu di urus oleh bapak-ibunya dan tinggal bersama satu rumah dengan keluarga Irma, ketika umur 5 tahun Risa bertemu dengan Eko, Eko adalah santri terbaik dari Pondok Pesantren Al-Yasiin. Yaa di hari itu si Irma kecil sedang asyik bermain di taman di temani oleh Eko mereka saling canda,kemudian si Irma melihat seekor anak burung di atas genteng akhirnya si Irma mengambil tangga untuk mengambil burung kecil di atas genteng, si Irma kecil naik tangga yang di bawahnya terdapat eko, terlihatlah bagian dalam si Irma kecil yang kemudian memunculkan niat busuk Eko untuk melakukan pelecehan seksual. Tangan kecil Irma tak sanggup menggapai anak burung itu yang kemudian Eko menawarkan bantuan dengan beberapa persyaratan yang waktu itu si Irma kecil belum mengetahui apa itu pelecehan seksual, ia menerima seluruh syarat yang diberikan oleh eko dan ternyata Eko melakukan pelecehan seksual waktu itu, dan setelah SD ia baru mengetahui bahwa kesuciannya telah direnggut oleh Eko, yang kemudian tak lama kemudian si Eko menikah dengan Risa, yaah Risa kakak kandungnya sendiri, sungguh sakitnya hati Irma saat itu, perasaan marah pada Eko ia pendam sendiri, ia tak berani untuk mengungkapkan kisahnya pada orang tuanya, dan pada kakaknya karena ia tak mau hubungan kakaknya dengan Eko menjadi renggang bahkan putus, ia pendam rasa kesal marah dalam hatinya,

Yaah si Irma menahan rasa sakitnya hingga dia masa SMA hingga pada akhirnya  ia memutuskan untuk masuk organisasi keagamaan, awalnya hanya ingin mencari kegiatan agar melupakan masa lalunya tapi Irma merasakan kenyamanan ketika ia bisa sibuk di organisasi itu, dan ia merasa bahwa ia sangat dekat dengan Allah dan kawan-kawannya, ia tak merasa sendiri lagi, hidupnya sangatlah ceria waktu itu, senyum, salam, dan sapa ketika bertemu dengan orang lain. Saat mengadakan acara perlombaan disekolahnya, dari sekolah-sekolah lain memberikan perwakilannya untuk mengikuti perlombaan. Saat itu Irma bertemu dengan Kholis yang rupawan, disela waktu perlombaan ia bertukar nomer HP yaah untuk koordinasi antar anggota Rohis, yang akhirnya si Kholis memberikan perhatian yang lebih pada Irma, kata-kata romantis pun ia keluarkan untuk mendapatkan hati Irma, sama seperti  wanita lain ia pun luluh dengan kata-kata romantis dan ia menerima cintanya Kholis. Awalnya pacaran mereka sama dengan lainnya, memiliki batas-batas yang jelas mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan, yaah setelah setahun akhirnya Irma menceritakan bahwa dirinya sudah tidak suci lagi ia pernah mengalami pelecehan seksual oleh kakak Iparnya, si Kholis terlihat sangat kaget ketika mendengar cerita bahwa pacarnya tidak suci lagi. Di hati Kholis mulai terdapat benih-benih nafsu ketika mendengar cerita tersebut, ia ingin menggauli pacarnya. karena dalam pikirannya bahwa pacarnya tidak lagi perawan, tanpa berfikir panjang ia mengatakan pada Irma bahwa ia ingin sekali berhubungan badan dengannya, karena tak ada lagi yang perlu di pertahankan. Irma merasa bahwa dirinya tidak berguna lagi dan ia menjadi sebuah sampah, tanpa ada penolakan ia mengiyakan keinginan pacarnya untuk berhubungan badan, tak ada lagi yang ia pikirkan, tak ada lagi yang perlu ia jaga, dan ia sangat mencintai pacarnya. Tak ada yang menghalangi ia untuk mengatakan tidak atas keinginan pacarnya, karena ia hanya berfikir bahwa harga diri seorang wanita terdapat pada keperawanannya, ketika keperawanan itu tak ada sebelum menikah maka kehormatan atau harga dirinya sudah hilang. Akhirnya ia menyerahkan tubuhnya pada Kholis, pada saat pertama kali mereka melakukannya ternyata Irma masih perawan saat itu, Irma sangat terkejut bahwa pada saat itu ia masih perawan dan menyerahkan keperawanannya pada Kholis begitu saja, penyesalan yang amat mendalam ia rasakan, jika ia mengetahui dirinya masih perawan, maka tak semudah itu ia menyerahkan tubuhnya pada Kholis. Tak ada yang bisa di rubah semua itu karena sudah terjadi, Irma menuntut kepada Kholis agar ia mau mengawininya dan Kholis pun bersedia untuk mengawininya, kedua keluarga pun sudah saling mengenal dan menyetujui pacaran mereka, dalam pikiran Irma keluarganya akan menerima Kholis sebagai menantunya, karena Kholis seorang yang shaleh di mata keluarganya, hati Irma seakan tenang menghadapi hari kedepannya, Irma masih bisa sekolah dengan nyaman dan beraktifitas seperti biasa. Ternyata hubungan seksual dengan Kholis menjadi hal yang biasa dan sering dilakukan oleh mereka, tidak ada ketakutan apapun saat itu. Kholis orang yang sangat setia sama Irma, Kholis tak pernah melirik wanita lain selama berpacaran dengan Irma, inilah yang membuat hati Irma sangat senang, tak ada wanita yang tidak senang jika pacarnya setia. Hampir tak ada konflik yang serius diantara mereka berdua.

Tiga tahun berlalu dengan Kholis, kelas satu, kelas dua, dan sekarang kelas tiga, dimana Irma dan Kholis memilih dimana mereka berdua melanjutkan kuliahnya. Tak disangka oleh Irma jika Kholis mendapatkan beasiswa di Bandung. Dan Irma mendapatkan D3 di salah satu perguruan tinggi di Pontianak. Sungguh perasaan yang sangat berat bagi mereka berdua, ketika Kholis dan Irma membahasnya berdua, ada kesenangan di hati Irma bahwa Eko tak jadi ke Bandung untuk meneruskan kuliahnya tapi ia meneruskan usaha orang tuanya di Pontianak. Secara diam-diam Kholis berangkat ke Bandung untuk meneruskan studinya. Kholis memberitahu Irma saat ia sampai di Bandung, matanya tak dapat membendung air matanya, suaranya penuh doa pada Allah agar Kholis kembali ke pangkuannya, Kholis pun meyakinkan Irma bahwa ia disana tidak akan berselingkuh, dan kembali untuknya, sedikit senyum dalam diri Irma, sebulan hingga tiga bulan hubungan jarak jauh pun mereka lakukan dengan lancar saja, telpon dan sms sangat rajin mereka lakukan, pada bulan ke empat eko sudah mulai jarang sms dan nelpon, hati Irma pun gusar, ada apa dengan Kholis di Bandung, ia sangat takut kalau terjadi apa-apa pada Kholis, karena ia sangat mencintainya, dan Kholis sudah menidurinya. Bulan ke lima ia menerima kabar dari sahabatnya bahwa Kholis di Bandung sudah memiliki pacar lagi. Irma sangat sedih saat itu ketika mendengarnya, ia merasa dunia itu runtuh dan tak ada lagi gunanya ia hidup, dan bulan ke enam Kholis menceritakan semuanya bahwa ia benar sudah memiliki pacar lagi di kota Bandung. Hancuur sudah dirinya.

Irma saat itu mengalami depresi berat hingga ada seorang laki-laki yang bernama Herry mendampinginya, awalnya ia sangat membenci Herry tersebut karena mendekatinya, tapi dengan kesabaran Herry menghibur hati si Irma, penolakan kasar maupun halus Herry rasakan, karena kasih sayang Herry pada Irma, ia menerima perlakuan Irma, satu tahun Herry mendekati Irma, Irma masih menyayangi Kholis saat itu, tapi ia pun membutuhkan sosok seorang laki-laki, akhirnya Irma menerima seorang Herry, walaupun Herry seorang pengguna narkoba, Irma sangat ingin Herry berhenti menggunakan narkoba, Herry pun menyetujuinya dan demi Irma ia berusaha melepaskan diri dari jerat narkoba, yang akhirnya benar Herry lepas dari jeratan narkoba, Herry berhenti total dari narkoba, walaupun tidak 100 % berhenti total, karena lingkungannya paling tidak dosisnya jauh lebih berkurang.

Kebutuhan biologis mereka pun tumbuh juga lama kelamaan, Herry mengajak berhubungan badan pada Irma, dan Irma pun menyetujuinya, tak ada alasan yang bisa dipakai untuk menolaknya. Walaupun rasa cintanya tidak terlalu besar tapi sosok Irma membutuhkan biologis dari seorang laki-laki. Yaag mereka berdua mulai merencanakan pernikahan karena Herry sudah mempunyai penghasilan walaupun tidak  banyak mungkin dikatakan kurang mencukupi, Irma tak mempermasalahkan itu karena ia siap bekerja untuk menopang kehidupan keluarganya nanti. Herry pun memberanikan diri kepada orang tua Irma, untuk mengatakan bahwa ia serius dengan Irma, Yaah kita semua tahu mana ada orang tua yang mau menerima seorang pengguna narkoba, Irma tak diijinkan untuk menikah dengan Herry, selain  karena Herry seorang pengguna ia juga tak memenuhi syarat keluarganya yaitu dari keluarga ulama/kyai. Herry memutuskan mencari wanita lain untuk menggantikan sosok seorang Irma di hatinya. Yaah Herry menemukan wanita lain dan membawanya kepada Irma, wajahnya terlihat sangat depresi, tangisan dan jeritan dari mulutnya. Tak tahu apa yang harus ia lakukan, setiap hari hanya terdiam merenungi kesalahan-kesalahannya, akhirnya ia memberanikan diri untuk pergi kepada terapis yang bernama Rahmat, ia bercerita semua halnya kepada Rahmat dalam kondisi terhipnosis, kemudian Rahmat menghadirkan sosok Allah dalam hatinya ketika mengulang kembali kisahnya, bahwa Allah melihat apa yang kamu lakukan dalam kesehariannya, Allah yang membimbing kamu dengan Al-Qur’an dan menyuruhmu meneladani Rasulullah, Tangisan dan jeritan saat di hypnosis. Semuanya ia katakan dengan penuh benci dan penuh kata istighfar dalam mengatakannya, ia berjanji tidak akan melakukannya sebelum ia menikah. Ia bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya taubat. Ketika Irma sadar dalam hypnosisnya si Rahmat menerangkan bahwa Irma lebih rendah dari pada seorang pelacur jalanan, dan menyebut Irma sebagai seorang pelacur cinta, pelacur jalanan menjajakan dirinya demi meneruskan kehidupan dia mungkin beserta anaknya, tapi pelacur cinta hanya memenuhi nafsu mereka saja, dan itu sama saja dengan binatang.

Sebulan dua bulan ia menyukai kesendiriannya, Irma menikmati kedekatannya kepada Allah saat itu, ketika nafsunya datang maka ia segera mengambil air wudhu dan membaca Al-Qur’an setelah itu ia terjaga dari nafsunya. Akhirnya tanpa di sengaja ia berkenalan lewat FB seorang ikhwan yang shaleh dan memberanikan diri untuk melamarnya, akhirnya si Ikhwan itu datang kepada keluarganya untuk melamarnya, dan keluarganya menerima si Ikhwan sebagai suaminya. Irma sangat terkejut ketika menceritakan pengalamannya kepada Ikhwan tersebut, ia menerima dengan syarat Irma harus bertaubat dengan sungguh-sungguh. Irma menerima persyaratannya, dan mereka menjalani hari tanpa ada pertemuan dan komunikasi hanya berkaitan dengan hari pernikahan selain itu tidak ada. Irma yang tadinya berkerudung panjang, kemudian melepaskan kerudungnya, kemudian kembali lagi memakai kerudung panjangnya dengan Al-Qur’an di tangannya. Irma menjadi sosok yang berbeda seperti layakanya Ulat yang menjadi kupu-kupu, seluruh keburukannya ia tinggalkan dan berubah menjadi penuh kebaikan dan mengubur rapat-rapat masa lalunya. Menjadi seekor kupu-kupu yang indah bersama sang Ikhwan menjalankan kehidupan yang penuh makna, kebahagiaan, dan menjadikan Allah sebagai tujuan utamanya.

\Cinta bukanlah nafsu, dan nafsu bukanlah Cinta/