439 views | Posted by Adi Putra Widjaja On August – 11 – 2010 2 Comments

Masyarakat ibukota saat ini kerap berhadapan dengan kemacetan di jalanan yang tampaknya makin parah dari hari ke hari. Kadang  sebuah truk yang mogok di tepi jalan dapat menyebabkan kemacetan hingga berkilo-kilometer jauhnya.  Pada gilirannya hal ini  tentu saja membuat waktu tempuh jadi semakin lama. Hebatnya, ini terjadi di jalan tol  yang berbayar dan katanya bebas hambatan. Terbayangkah  apa jadinya bila kecelakaan tabrakan beruntun yang terjadi?  Sangat mungkin waktu tempuh yang Anda perlukan dari rumah ke kantor atau sebaliknya malah lebih lama daripada bermobil dari Jakarta ke Bandung.

Bayangkan lagi jika anda adalah seorang ayah atau ibu yang sedang pulang kantor dan sudah tidak sabar ingin bercengkerama dengan anak-anak anda di rumah. Kira-kira bagaimana suasana hati anda saat itu?

Saya tidak tahu bagaimana persisnya perasaan Anda.  Tetapi jika anda menggunakan kerangka berpikir NLP, maka anda akan ditawari seperangkat alat untuk menghadapi berbagai situasi yang kurang nyaman di atas.  Alat tersebut bernama Reframing.

 

Apa itu Reframing?

Sebuah kejadian hanyalah sebuah kejadian sampai seorang manusia meletakkan sebuah bingkai (atau kerangka berpikir) atas kejadian tersebut sehingga memberikan arti atau makna pada peristiwa tersebut.  Sehingga, sebuah peristiwa yang sama dapat memiliki lebih dari satu makna, ini tergantung dari bingkai apa yang Anda gunakan.

Dapat digambarkan dengan rumus seperti berikut:

Kejadian + Bingkai/Kerangka Berpikir = Arti/Makna

Misalkan; kemacetan jalanan di Jakarta hanyalah sebuah pemandangan yang melukiskan berbagai mobil yang seolah-olah diparkir di tengah jalanan dalam keadaan mesin hidup. Kemudian seorang pakar ekonomi memberi bingkai efisiensi terhadap peristiwa tersebut, maka pemadangan kemacetan tersebut memiliki makna pemborosan yang sangat parah. Lalu seorang pedagang makanan memberi arti yang lain lagi, yaitu kesempatan menjajakan makanan kepada para penumpang yang terjebak dalam kemacetan.

Sementara Anda yang tengah candu dengan berbagai media jejaring sosial di dunia maya; atau Anda yang memiliki BlackBerry; Anda akan mengatakan justru dengan situasi jalanan yang macet tersebut membuat anda berkesempatan untuk tetap dapat membaca, menulis update, dan membalas status account facebook atau twitter Anda; serta melakukan BBM ke teman-teman anda. Jadi mengapa harus diributkan?

Lalu, siapa yang benar? Reframing tidak membahas tentang benar atau salah. Reframing hanyalah sebuah alat bantu yang dapat menolong Anda membebaskan pikiran Anda dari hal-hal yang membuat Anda menjadi tidak berdaya.

By the way, bicara tentang BlackBerry alias BB. Isu pemblokiran jasanya juga sedang hangat-hangatnya di negeri ini. Umumnya, para operator telepon di sebuah negara yang memegang data mengenai pelanggan, bukan pembuat perangkat telepon seluler. Tetapi hal ini sepertinya tidak berlaku bagi Research In Motion (RIM); perusahaan asal Kanada yang menciptakan perangkat komunikasi BlackBerry.

Karena tidak bersedia memberikan akses kepada Pemerintah UEA ke server pengguna BB, maka terjadilah pemblokiran jasa BB di negara tersebut. Alasannya, Pemerintah UEA khawatir jika data tersebut disalahgunakan pihak lain.

Jika Anda adalah seorang anak yang sudah sedari sore menanti-nantikan orangtua kembali dari kantor; karena ada kisah menarik di sekolah yang ingin diceritakan. Dan ketika mereka tiba di rumah, Anda malah melihat mereka asyik sendiri dengan perangkat BB masing-masing, apakah Anda kemudian akan membuat group di Facebook bertajuk “Dukung pemblokiran BB”?

Bila memakai perangkat Reframing; bagaimana Anda “membingkai ulang” hal ini? Apakah BB mendekatkan yang jauh? Atau BB malah menjauhkan yang dekat?