NLP for Parenting #10 Pengasuh menjadi Jimat Anak. How? Why? 1,415 views | Posted by Adi Putra Widjaja On August – 6 – 2008

 

Suatu ketika ada seorang sahabat yang bertanya ke saya, “Minta tipsnya, dong hal apa yang paling menyenangkan untuk dilakukan di Jakarta di hari Senin pagi?” Karena pertanyaan ini, saya jadi mulai agak mengerti dengan tag line “I Hate Monday”. Ternyata sulit juga mencari hal yang menyenangkan untuk dilakukan di hari Senin pagi yang dapat diterima sahabat saya. Apalagi ketika saya mengatakan, “Bergaul dan bercengkerama dengan anak-anak usia batita di kelas.” Loh? Setiap Senin pagi sejak bulan lalu ada ritual baru bagi saya yaitu nongkrong bareng dengan anak bayi baru gede. Berada dalam lingkungan ini serasa kembali lagi ke masa kecil. Mengamati bagaimana tingkah pola mereka seperti dihadapkan kembali pada pelajaran tentang kejujuran. Pada hari itu ada sebuah kejadian yang sangat menarik dan membuat saya bertanya-tanya. Ketika semua anak-anak yang baru memiliki pengalaman pertama masuk sekolah sudah terbiasa dengan lingkungan barunya, mengapa masih tersisa satu anak yang tetap menangis? Tetapi bila ada pengasuh di sampingnya, anak ini menjadi begitu tenang. Ada apa gerangan? Bedakan How, “Why” dan ‘Why’ Kedua kata ini jika diletakan pada awal sebuah kalimat tanya dapat memberikan jawaban yang berakhir pada sebuah cara memecahkan solusi, atau alasan-alasan yang tidak berujung pangkal atau… sebuah awal dari sebab. Saya masih ingat ketika masa-masa awal belajar NLP. Saya sangat tergila-gila berburu dan mengoleksi jurus-jurus metode dan teknik NLP. Jika ketemu kasus, kalimat tanya yang diajarkan untuk digunakan pertama sekali adalah How. Bagaimana CARAnya mengatasi kasus ini? Karena metode dan teknik NLP yang begitu asyik dan efektif, sampai-sampai tidak terpikirkan untuk mencari tahu ‘Why’ nya memakai metode dan teknik untuk kasus ini atau kasus itu. Ditambah lagi ada beberapa jurus terapi yang seolah mengharamkan menanyakan “Why” pada pasien. Dan ini adalah jurus pamukas saya, yang selain membuat pasien merasa nyaman karena tidak perlu cerita; juga membuat terapis seolah-olah menjadi paranormal. Sampai suatu ketika saya berhadapan pada sebuah kasus yang tidak dapat diatasi oleh berbagai jurus yang saya kuasai. Jurus-jurus yang dipakai bukannya menyelesaikan masalah, malah menambah masalah baru. Dalam kebingungan yang amat sangat, munculah kata ‘Why’ di depan pertanyaan saya. Kali ini ‘Why’ nya memberikan makna baru. Kata ‘Why’ yang bukan memancing banyak alasan yang berujung pada pembenaran yang semakin kuat, melainkan penemuan awal dari sumber masalah. Pengasuh menjadi tombol kenyamanan bagi Sang Anak Jika guru memulai pertanyaan dengan “How” dalam mengatasi kasus tersebut, maka cepat atau lambat akan muncul perasaan frustasi. Apalagi jika menggunakan sebuah metode yang menyarankan untuk memisahkan Si Anak dengan Sang Pengasuh sampai Si Anak terbiasa dengan lingkungan; yang belum tentu cocok diterapkan pada kasus ini. Pertanyaannya adalah mau sampai berapa lama Si Anak dibiarkan menangis terus menerus dan malah memperkuat perasaan tidak nyaman tersebut? Ketika guru memulai dengan pertanyaan ‘Why’ – Mengapa Si Anak terlihat mengalami perubahan sikap yang drastis hanya dengan munculnya Sang Pengasuh? Maka para guru mulai mencari tahu apa yang kira-kira terjadi di rumah Si Anak sehingga munculnya perilaku tersebut. Tidaklah mengherankan bagi guru ketika mengetahui gaya komunikasi antar orangtua dari Si Anak yang menyebabkan anak menjadi tidak nyaman. Dan secara kebetulan Sang Pengasuhlah yang muncul sebagai “pelindung” serta memberikan rasa aman dan nyaman. Ketika kita mengetahui ‘Why’ yang berlandaskan pada Attitude, maka “How” yang mewakili Metode dan Teknik akan muncul dengan sendirinya. Mungkin metode dan teknik tersebut tidak akan Anda temukan di buku NLP yang best seller sekalipun. Why? Because you understand THE ATTITUDE! Pertanyaan : 1. Manakah yang lebih baik; anak lengket dengan pengasuh atau dengan kedua orangtuanya? Jika orangtua belajar rahasia dari pengasuh yang berhasil membuat lengket anaknya, dapatkah orangtua melakukan hal yang sama?