Semalaman hujan turun dengan lebat. Tanah jadi basah, daun-daun dan ranting- ranting basah, genting serta atap rumbia juga basah. Air yang menyirami bumi membuat semua tanaman segar, petani senang hatinya.

Di sebuah sudut dinding dapur di atas meja makan dekat atap di dalam rumah petani tinggallah keluarga laba-laba, sarangnya yang terbuat dari serat halus dianyam rapi oleh ibu laba-laba.

Anak laba-laba yang sering dipanggil laba kecil, memperhatikan ibunya yang sedang memperkuat rumah mereka dengan memberikan rangkapan serat, pada anyaman sarang tempat tinggal mereka.

“ Ibu, kapan selesai memperkuat rumah kita ?” tanya laba kecil kepada ibunya, karena sudah seharian ibunya bekerja dan belum istirahat.
“Saya sudah lapar, seharian ini belum makan, nyamuk yang nyangkut dua hari yang lalu sudah habis kemarin. Ibu, carikan makanan bu !” pinta laba kecil kepada ibunya.

“ Sebentar lagi nak, rumah kita harus kuat sebelum hujan reda. Karena hujan yang deras ini akan membuka sarang rayap, dan rayap yang sudah berubah menjadi laron akan beterbangan mencari cahaya, biasanya akan ada dua atau tiga laron yang tersangkut disini, itulah sebabnya rumah kita ibu perkuat.” ibu laba-laba menjawab sambil menjelaskan kenapa rumahnya harus diperkuat, karena rumah mereka sekaligus tempat mencari makan, alat menjaring mangsa.

Dipojok dinding bawah meja makan terdapat lobang, disitulah keluarga tikus tinggal.
Tikusnya gemuk-gemuk, karena mereka sering makan hasil curian.
Saat si empunya makanan teledor, menaruh makanan diatas meja tanpa ditutup, begitu ditingal sebentar, langsung si tikus dengan cepat mencuri sepotong lauk dan masuk ke sarangnya.

Melihat kelakuan tikus laba kecil merengek kepada ibunya:
” Ibu.., kenapa tidak seperti tikus, mereka ngambil makanan diatas meja ! Saya lapar bu..”.
Ibu laba-laba berhenti sejenak dan menjawab :
” Tidak nak, Itu namanya mencuri. Ayah-Ibu dan Kakek kita berpesan : lebih baik lapar dari pada mencuri. Itu dosa !
Kita laba-laba diberi Tuhan kemampuan membuat rumah untuk menjaring makanan pemberian Tuhan. Saratnya sabar menunggu”.

Tiba-tiba “ Ciii..t, cii..t ! Bug ! adu..h…, aduh. Terdengar erangan si tikus.
Malang bagi si Tikus, saat dia hendak mencuri makanan diatas meja yang kedua kalinya, si empunya rumah memergoki, dia mengambil pemukul dan langsung memukul si tikus tepat kena kepalanya.
Sambil menjerit si tikus lari masuk lobang.
Laba kecil berlari memeluk ibunya, terkejut melihat peristiwa itu.

Hujan pun reda , langit biru jernih, matahari pagi bersinar cerah.
Laron keluar dari liangnya terbang keatas mencari cahaya.
Seekor laron yang terbang ke pojok dinding nyangkut dirumah laba-laba.
“betul kata ibu” kata si laba kecil “

Sabar dalam bekerja,ulet dan pantang menyerah.Itu yang digambarkan oleh sang Ibu laba-laba. Bagaimana menurut Anda?
Sahabatku yang Amazing, jadi Setiap pemikiran dan tindakan kita dalam hidup ini, mempunyai cara untuk kembali kepada kita, cepat atau lambat, ia akan seperti gema, untuk mengganjar perbuatan baik. Hukum alam tentang reaksi adalah pedang bermata dua. Jika perbuatan kita manis, murah hati, ikhlas dan baik hati, maka gema yang kembali cenderung mengangkat, mendukung dan memuaskan hidup kita.

” Jangan sampai hanya karena memenuhi kebutuhan perut semua cara di Halalkan,kita di beri Tuhan akal dan pikiran untuk kita bisa Survive dalam hidup ini. yang Benar tetap Benar yang Salah tetap Salah jangan sampai tertipu ya sahabat. SEMANGAAAAT..