keluarga bahagia

Rumah tangga adalah kawasan kedua pada tingkatan amal dan target-targetnya dalam dakwah Ikhwan. Ia merupakan bagian dasar dari struktur bangunan masyarakat dan perbaikannya. Tidak hanya karena peran rumah tangga dan seseorang dalam mendukung proyek-proyek dakwah, tapi juga karena keluarga merupakan batu pijakan dasar yang orisinil yang tidak ada gantinya dalam membangun sebuah masyarakat. Masyarakat tidak akan baik, kecuali dengan baiknya bangunan keluarga. Tidak pernah tergambar bahwa terdapat sebuah masyarakat muslim yang mulia dan menegakkan prinsip-prinsip Islam, sementara rumah tangga dan keluarganya lemah dan sangat jauh dari indikasi dan gambaran masyarakat yang menerapkan manhaj Allah.

Imam Syahid berkata, “Apabila sudah terbangun keluarga yang shalih, maka umatpun akan menjadi shalih, karena umat merupakan kumpulan keluarga. Dengan kata lain, sesungguhnya keluarga adalah miniature umat, sementara umat adalah keluarga yang besar.”

Beliau juga berkata, “Kami menginginkan kebangkitan laki-laki dan perempuan secara bersama-sama, mengumumkan adanya takaful dan emansipasi serta menetapkan tugas masing-msing secara rinci.”

“Untuk itu, kami juga memperhatikan kaum wanita sebagaimana perhatian kami kepada kaum pria. Kami juga memperhatikan anak-anak sebagaimana perhatian kami kepada pemuda.”

Imam Syahid memberikan beberapa gambaran dalam pembentukan keluarga, yang terus menerus ditingkatkan dari batas minimal hingga menjadi model yang diinginkan, yakni dari; menghargai fikrahnya, hingga pembinaan kelaurga muslim teladan dalam setiap aspek kehidupan.

Imam Syahid berkata, “Pembentukan kelurga muslim, yaitu dengan mengkondisikan keluarga agar menghargai fikrahnya, menjaga etika Islam dalam setiap aktivitas kehidupan rumah tangganya, memilih istri yang baik dan menjelaskan kepadanya hak dan kewajibannya, mendidik anak-anak dan pembantunya dengan didikan yang baik, serta membimbing mereka dengan prinsip-prinsip Islam.”

Rumah tangga yang dimaksudkan adalah tidak hanya sebuah rumah tangga yang kecil yang terdiri dari pasangan suami isteri serta anak-anak, namun ia lebih luas dan mencakup seluruh anggota keluarga dan karib kerabat.

Dengan demikian, maka perhatian untuk membentuk rumah tangga muslim harus diberikan sejak dini, yaitu dengan mempersiapkan setiap individu, baik laki-laki maupun wanita, dan mempersiapkan mereka untuk membangun rumah tangga dan memilih istri yang baik.

Urgensi Perbaikan Diri

Setiap individu adalah labinah dalam keluarga, memperbaikinya merupakan langkah mendasar untuk memperbaiki rumah tangga. Imam Syahid berkata, “Perbaikan dalam skala individu akan berpengaruh bagi perbaikan keluarga, karena keluarga merupakan kumpulan individu. Jika anggota keluarga yang laki-laki shalih dan yang perempuan shalihah –keduanya merupakan pilar keluarga- maka mereka akan bisa membangun sebuah keluarga ideal, sesuai dengan model yang telah dituntunkan oleh secara proporsional oleh Islam.”

Dalam melakukan perbaikan untuk skala individu, Imam Syahid menyebutkan beberapa hal yang harus dipenuhi dan dilaksanakan:

* Perasaan dan nurani yang peka
* Pandangan yang benar
* Keinginan yang kuat
* Tubuh yang sehat
* Pengarahan yang benar untuk melaksanakan tugas dengan benar.

Imam Syahid menyebutkan 10 sifat –selain beberapa sisi lain dalam pembentukan Pribadi- yang akan mewujudkan pribadi aktivis sekaligus pemikir dan anasir produktivitas yang pemberani, yang memiliki keistimewaan dalam aspek-aspek mendasar ini.

Imam Syahid berkata, “Sesungguhnya, Islam menginginkan dalam diri setip mukmin perasaan dan nurani yang peka, sehingga dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan. Islam juga menginginkan sebuah pandangan yang benar dalam memahami sesuatu itu ‘benar’ atau ‘salah’, sebuah keinginan yang kuat yang tidak akan pernah melemah dalam membela kebenaran, tubuh yang sehat yang siap mengemban berbagai tugas kemanusiaan secara baik, dan menjadi perangkat yang layak untuk mewujudkan cita-cita mulia, mampu mengegolkan misi kebenaran dan kebajikan.”

Dan hal ini bisa diwujudkan dengan menerapkan manhaj Islam dalam aspek-aspek berikut:

“Oleh karena itu, kami sangat menganjurkan kepada setiap akh agar beribadah sebagaimana yang diperintahkan Allah untuk meningkatkan kualitas ruhiyahnya, belajar apa saja yang memungkinkan dipelajari untuk memperluas cakrawala berpikirnya, berakhlak Islami untuk menguatkan keinginannya, dan komitmen dengan tata aturan Islam dalam hal makan, minum, dan tidur sehingga Allah senantiasa menjaganya dari marabahaya.”

Kaidah-kaidah ini tidak hanya diperuntukkan bagi laki-laki dan meninggalkan kaum wanita, melainkan keduanya memiliki kedudukan yang sama dalam pandangan Islam. Oleh karena itu, ukhti muslimah –sebagaimana kami nasehatkan kepada al akh muslim- hendaklah selalu dalam kehalusan nurani, keluasan cakrawala berpikir, kesempurnaan akhlak, dan kesehatan badan.”

Kaidah dan Tujuan Pembinaan keluarga Muslim

Imam Syahid menjelaskan tentang kaidah dan tujuan umum dalam pembentukan keluarga muslim:

“Islam telah membimbing kita dalam membangun rumah tangga, (mulai dari memilih calon pasangan hidup), dengan sebaik-baiknya bimbingan. Dia juga mengikat suami istri dengan ikatan yang kokoh, menentukan hak dan kewajiban mereka, mewajibkan mereka untuk menjaga buah pernikahan ini sampai matang tanpa cacat dan cela, mengantisipasi apa saja yang bisa menghadang kehidupan rumah tangga dari berbagai problem secara tepat dan cermat, dan mengambil jalan pertengahan dalam setiap permasalahan, tidak berlebihan dan tidak meremehkan.”

Kita dapat meringkas target-target umum dan khusus dari pembentukan keluarga muslim, sebagai berikut:

* Komiten dengan prinsip-prinsip syariat dalam membangun rumah tangga muslim, yang mencakup hal-hal berikut:
* Membangun rumah tangga muslim dari pasangan suami istri yang muslim dan shalih-shalihah.
* Masing-masing pasangan menunaikan kewajiban dalam rumah tangga.
* Satu sama lain bekerjasama dalam melaksanakan tugas masing-masing.
* Berupaya untuk melahirkan dan menumbuhkan mawadah (rasa cinta) dan rahmah, serta hubungan yang romantis di dalam keluarga.
* Mampu menyelesaikan setiap persoalan keluarga dan konflik suami isteri dengan baik.

Kemampuan ayah dalam memberikan tarbiyah dan pendidikan terhadap anak-anak dan pembantu serta mengkondisikan mereka dengan nuansa keluarga yang Islami:

* Kaum ayah mampu menggunakan metode dan sarana-sarana tarbiyah yang benar terhadap anak-anak.
* Mampu berinteraksi dengan anak-anak secara baik di setiap fase pertumbuhan mereka, dengan tetap menjaga karakteristik setiap fase pertumbuhan anak (Sejak dilahirkan – masa menyusui – Anak usia dini – balita – dan remaja).
* Mampu mengatasi problematika yang ditemui selama mendidik anak-anak.
* Membentuk kepribadian muslim yang paripurna, yaitu melalui target-target dan prosedur khusus berikut:
* Mewujudkan 10 sifat dalam setiap masa pertumbuhan Salimul Akidah (bersih akidahnya), shahihul Ibadah (benar ibadahnya), Matinul Khulq (Kokoh akhlaknya), Qawiyyul Jismi (memiliki fisik yang kuat), Mutsaqqaful Fikr (berwawasan pemikirannya), Qadirun Alal Kasbi (mampu berekonomi), Munazhamun fi Syu’unihi (terorganisir seluruh urusannya), Harishun Ala waqtihi (Cermat mengatur waktunya), Mujahidun Linasihi (kuat kesungguhan jiwanya), Nafi’un Li Ghairihi (Bermanfaat bagi selainnya).
* Komitmen dengan norma dan adab-adab Islam dalam setiap aspek kehidupan. Seperti ketika makan, minum, tidur, meminta izin, berbicara, bercanda, memberikan nasehat, zikir, kebersihan, menutup aurat atau berhijab, menghormati yang tua, menyayangi yang muda, lembut terhadap hewan, serta norma-norma sosial penting yang lain.
* Membiasakannya untuk mencintai Allah dan rasul-Nya, mengenal nikmat-nikmat Allah, mencintai Rasulullah Saw. dan senantiasa bershalawat kepadanya, mencintai shalat dan senantiasa menunaikannya, memiliki keterikatan dengan Al Quran dan selalu menjaganya. Pembangunan rasa cinta dan hubungan yang baik ini sangat penting, agar penerapan dan pelaksanaannya selalu benar.
* Membangun sifat mawas diri
* Membiasakannya untuk selallu menyukai kebaikan (kemuliaan), dan membenci kehinaan, membangun timbangan yang benar untuk membedakan antara yang baik dan salah, serta membentuk standar akhlak dan budi pekerti yang luhur.
* Mengutamakan pemberian model dan qudwah
* Membiasakan permainan yang bermanfaat dan produktif.
* Menumbuhkan ruh keberanian, vitalitas, kesungguhan, kesabaran dan disiplin dalam permainan olahraga yang bermanfaat.
* Memperhatikan aspek-aspek pendidikan, psikologi, kesehatan dan pertumbuhan anak-anak, serta mewujudkan keselamatan dalam skala minimal, berprestasi dan istimewa sebagai target.
* Menyadarkan dan memproteksi anak-anak dari khurafat dan kebohongan-kebohongan terhadap Islam.
* Menanamkan loyalitas terhadap Islam, bangga Islam dan peradabannya, mengenal kontribusi yang diberikan Islam kepada dunia, dan bangga dengan bahasa Arab dan kemahiran menggunakannya.