oleh Abdul Mutaqin pada 22 September 2010 jam 20:59

Makin hari, hidup semakin canggih. Dunia semakin dipenuhi dengan berbagai fitur kemudahan, familiar, cepat dan menyenangkan. Kita bisa mengakses berbagai informasi hanya dengan hitungan detik. Tidak perlu menunggu terlalu lama yang membosankan. Dunia benar-benar semakin “mewah” dan instant dengan kehadiran teknologi. Dunia terasa mengecil dengan kemajuan IT yang mementahkan jarak pandang, jarak dengar dan jarak bicara. Sekarang, orang di satu belahan benua dapat langsung berinteraksi dengan orang lain seolah tanpa sekat. Seolah-olah Jakarta-Jeddah, Depok-Capetown atau Indramayu-Den Haag berhasil disederhanakan dengan layar mobile phone, Facebook, Twitter, YM atau apalah namanya itu. Dunia terasa semakin mudah dijelajahi karena kecerdasan otak manusia yang membesar. Dalam urusan ini, manusia menunjukkan bahwa kehadirannya lebih maju berkali-kali dari makhluk Tuhan yang lain.

“Assalamu’alaikum, halo Ayah”

“Wa’alaikumussalam, ya halo. Bagaimana kabarmu, Nak”.

“Baik, Ayah. Kami semua sehat-sehat. Ayah bagaimana, sehat juga kan?”

“Alhamdulillah. Ayah dan Bunda baik-baik dan sehat walaupun cuaca di sini dingin sekali. Esok Ayah dan seluruh jamaah akan wukuf. Doakan agar semuanya lancar”.

“Aamiin. Semoga Ayah dan Bunda menjadi haji yang mabrur. Assalamu’alaikum”.

Bersyukurlah kita dengan kehadiran teknologi komunikasi. Illustrasi di atas hanya sebagian kecil contoh bahwa otak manusia kadang seribu kali lebih besar dari tubuhnya. Sehingga jarak bicara Jakarta-Saudi bukan lagi sebuah persoalan. Otak manusia telah berhasil memecahkan problem jarak itu dengan perangkat buatannya. Maka, orang yang tengah beribadah di tanah suci dapat selalu memantau keadaan keluarganya di tanah air. Begitu juga sebaliknya.

Sekarang banyak komunitas muslim tengah menikmati medium sillaturrahim digital. Di mana komunikasi dan interaksi dibangun tanpa mereka harus berada dalam satu ruang dan waktu yang bersamaan. Mereka hanya dihubungkan oleh softwere yang menghadirkan mereka dalam dunia maya bersifat komunal. Cepat, epektif dan efisien menjadi trademark sillaturrahim cara ini. Dan tentunya modern.

Sillaturrahim digital sangat relevan dalam kondisi-kondisi tertentu. Handphone atau Facebook misalnya. Dalam kehidupan modern yang menuntut kita serba cepat, Handphone dan Facebook sangat cocok mewakili tuntutan kelas muslim modern untuk mendampingi kehidupan komunikasi mereka di zaman ini. Namun, betapapun gagahnya modernitas itu, ia tidak bisa melumpuhkan nilai luhur sillaturrahim konvensional yang selama ini mengakar kuat dalam praktek kehidupan kita. Ada yang tidak bisa dihadirkan oleh IT dalam sillaturrahim, yakni kehangatan, senyum, taraahum, tafaahum, secangkir teh dan jiwa ukhuwwah dalam jabat tangan atau peluk-cium. Meskipun bercengkrama,  layar Hanphone atau Facebook  tetap rigid, kaku dan mekanis.

Nyatanya, banyak Facebooker tetap saja mengejar pulang kampung atau mudik saat lebaran. Mengapa? Apakah tidak cukup mengucapkan selamat Idul Fitri di akun Facebooknya? Atau menguntai kata-kata mutiara yang panjang dan mempesona walaupun ujung-ujungnya minta ma’af lewat SMS? Tidak, tidak cukup. Karena baik Facebook maupun SMS, tidak real menghadirkan kehangatan, senyum, taraahum, tafaahum, secangkir teh dan jiwa ukhuwwah dalam jabat tangan atau peluk-cium. Mereka mendapatkan semua itu melalui sillaturrahim konvensional dengan muwajjahah dengan orang tua, karib-kerabat, handai-tolan atau kawan karib di kampung halaman. Sesudahnya, barulah masing-masing bercerita di layar Facebook atau SMS dalam komunitas pertemanannya secara massal. Begitulah kecanggihan teknologi yang mekanis tidak selamanya bisa menghadirkan harapan manusiawi dalam satu waktu. Meskipun dalam waktu yang lain, kita semua amat “bergantung” pada kesaktian dan keunggulannya.

Anehnya, masih tersisa manusia dengan isi otak yang cerdas itu dan isi hati yang berperasaan itu, mengerdilkan martabatnya di bawah ketiak teknologi rekayasa mereka sendiri. Mereka secara tidak sengaja menjadi kelihatan lebih ‘tolol”  dari sekedar HP atau Internet. Seolah-olah mereka begitu “beriman” kepada teknologi hampir sepadan dengan keimanannya kepada Allah dan Rasulullah.

Ah, jangan-jangan itu hanya ilusi dan soal yang terlalu didramatisir belaka. Bukan. Ini adalah kenyataan meskipun kenyataan itu tidak merata dan hanya terjadi sebatas kasus yang tidak dapat dipukul rata begitu.

Dalam satu kesempatan berjama’ah, kali itu saya merasa kenikmatan berjum’at menjadi hilang. Saya sedikit terusik dengan ulah beberapa orang dari jama’ah yang tidak mengindahkan khatib yang sedang berkhutbah. Ada di antara mereka yang asyik main game di HP, SMS-an bahkan mengangkat panggilan telpon saat jamaah lain khusyuk menyimak nasehat khatib. Bahkan yang amat “menyebalkan” saya, ada di antaranya yang masih menyumpal telinganya dengan headset yang terhubung dengan Blackberrynya. Paling tidak, ada lima pelanggaran sekaligus yang mereka lakukan. Pertama, menjadikan teknologi hampir seperti ”tuhan” yang mereka sembah. Kedua mengabaikan pesan pengurus masjid agar sebelum Jum’atan dimulai agar menonaktifkan berbagai alat komunikasi. Ketiga mengganggu kekhusyukan jamaah lain. Keempat, melecehkan kehadiran khatib dan keagungan hari Jum’at. Dan kelima melecehkan ucapan Rasulullah berikut :

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ

Abu Hurairah mengabarkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kamu berkata kepada temanmu pada hari Jum’at ‘diamlah’, padahal Imam sedang memberikan khutbah maka sungguh kamu sudah berbuat sia-sia (tidak mendapat pahala).” (HR. Bukhari No. 882).

Belum lagi jika adzan telah berkumandang, sejujurnya masih ada di antara muslim yang masih mamatut-matut di layar Facebook. Tapi hati-hati, bisa saja layar Facebooknya online, namun usernya sedang berdiri berjamaah di masjid. Bisa saja.

Teknologi atau muslimnya sih yang salah?

Ada yang berargumen,:

”Teknologinya yang salah, sebab kehadirannya memancing orang dan membentuk mindset orang untuk berbuat salah. Kalau tidak dibuat HP-HP atau facebook itu, orang itu tidak akan mengabaikan segala tata tertib dan sarat rukun berjum’at. Makanya jangan terlalu ”beriman” kepada buatan orang kafir. Buatan orang kafir lebih banyak bahayanya dari pada manfaatnya”.

Ada lagi argumen yang lain,:

”Bukan, bukan teknologinya yang salah, tapi orang muslim itu yang tidak dewasa berhadapan dengan teknologi. Bagaimana pun, kehadiran teknologi hanya sebatas sarana. Ia hanya berfungsi bila dijalankan oleh manusia. Manusianya saja yang tidak mengerti aturan saat kapan dan di mana teknologi itu dimanfaatkan. Toh, HP itu tidak menuntut kalo dia dimatikan saat sedang Jum’atan”.

—-

”Oalaah, … sombong banget sih nih orang. Diajak nyambung sillaturrahim, ga mau ngasih tanggapan”.

”Ada apa sih, kok gerutu sendirian?”.

“Eh, engga Bang. Ini, lagi nggak nyaman aja”.

“Apa yang bikin kamu tidak nyaman?”.

“Ah, soal sepele sih, tapi saya ngga nyangka ternyata orang yang saya duga baik, tidak menanggapi ajakan sillaturrahim saya. Ajakan baik saya seolah diacuhkan”.

“Lo, gimana ceritanya?”

“Gini ceritanya Bang. Kita udah lama kenal di FB. Saya punya niat baik. Saya SMS nanyain di mana rumahnya, ya pokoknya hal-hal  biasa. Ga ada yang istimewa, apalagi hal-hal pribadi yang katakanlah menyinggung perasaan. Tapi, sampai sekarang ga dibalas-balas. Ngeselin kan?”

“Ooo begitu. Yaa, wajar sih kalau Ente ngerasa gak enak hati. Tapi, Ente tahu ga keadaan yang tengah dihadapi orang yang Ente SMS itu?”

Kecanggihan teknologi memang sangat memudahkan hidup kita. Maka bersyukurlah agar itu benar-benar menjadi rahmat sebagai bentuk kasih Allah di dunia. Apalagi, jika kita sanggup mendisain kehadirannya dalam rangka taqarrub dan ketatan pada-Nya sepanjang waktu.

Tetapi jangan terlalu percaya pada teknologi. All out habis-habisan. Sebab salah-salah bukan membuat kita menjadi mudah dan nyaman menghabiskan waktu hidup, tetapi malah membuat kita semakin tersiksa dengan kehadirannya hanya karena salah persepsi terhadapnya. Memang ada banyak orang usil yang sengaja meledek kita agar merana, tapi tidak pula sedikit, bahwa kita sendirilah yang membuat kita merana, bukan siapa-siapa.

Penting untuk digarisbawah, bahwa teknologi mampu menghadirkan kemudahan, tetapi tidak semua dapat direngkuh olehnya. Maka jangan terpancing untuk cepat-cepat mengambil kesimpulan bahwa ia begini dan begitu. Apalagi jika kesimpulan itu hanyalah dugaan belaka. Apatah lagi jika dugaan itu adalah dugaan yang buruk atau yang disebut para ustadz dengan su’udzan.

Jangan buru-buru jengkol, eh jengkel, kalau satu saat SMS kita belum dibalas. Jangan buru-buru mendelik di depan layar HP kalau SMS atau telpon balasan belum berdering menjerit. Kalau ada pada diri kita, malu lah dengan ringtone HPnya ketika berbunyi di seberang telinga, “…jagalah hati, jangan kau kotori. Jagalah hati lentera hidup ini …”. Ada juga ringtone orang mengaji, gema adzan dan sebagainya ringtone-ringtone Islami. Kalau justeru pemilik HPnya tidak Islami, bagaimana? Ah, saya ingin cari ada yang jual gak ringtone otomatis atau SMS balik otomatis yang isinya begini :

“Haloo, maaf yang punya HP lagi ga ada pulsa. Mau beli voucher lagi boke”.

“Haloo, HPnya lagi diblokir, tunggu balasannya ya kalo blokir sudah dibuka”.

“He he he, HPnya keselip. Yang punya udah pusing nyariin ada di mana”.

“Aduh SMS Anda penting sekali. Tapi yang punya HP sedang di rumah sakit. Anaknya demam tinggi. HP nya tertinggal karena buru-buru”.

“Sorry, HP orang yang Anda kirimi SMS, gue curi saat di kereta”

“HPnya lagi ngadat. Cuman bisa nerima doang. Kaga bisa telpon balik. Kasiaan deh lo”.

”Maaf Bang, HP ini lagi saya pinjem. Keluarga saya ada yang wafat. Urusan jawab SMSnya nanti saja dengan sohibul HP”.

Ada kemungkinan-kemungkinan yang “metafisik” di balik harapan mendapat jawaban pesan. Ada satu waktu di mana teknologi HP tidak dapat kita harapkan fungsinya sesuai keinginan. Bisa jadi karena salah satu faktor yang saya analogikan di atas. Dan itu hanya baru sebagian kecil kemungkinan. Masih banyak kemungkinan yang lain. Karena teknologi tidak manusiawi, maka jangan kehilangan sisi kemanusiaan kita apabila satu saat pesan yang kita kirim belum terjawab.

”Bang, dia kan bisa ngasih kabar lewat FBnya kalo misalnya HPnya lagi eror. Pendek amat sih akalnya”.

”Loh, mungkin juga situasinya memang tidak memungkinkan. Kalo Ente istimewa, bisa online seperti rexona yang setia setiap saat. Lah orang itu, mungkin saja hanya bisa menikmati internet dengan waktu dan ruang yang terbatas. Kalo menurut Abang sih, jangan dulu berprasangka buruk. Tar kalo nyatanya salah, gimana?”

”Bang, orang itu yang bikin saya su’udzon. Dia itu yang memindset saya jadi buruk sangka. Salahnya sendiri memancing orang menjadi seperti itu. Ingat, orang berbuat tidak baik bukan semata lahir dari niat, tapi dari situasi yang Anda ciptakan”.

”Jago juga Ente berargumen’.

”Saya ini jurnalis Bang. Harus jago berargumen”.

”Iya, percaya. Tapi jangan tinggi-tinggi argumen Ente. Makin tinggi posisi, makin sakit kalo jatoh”.

Saya hampir setuju dengan jargon ”Orang berbuat tidak baik bukan semata lahir dari niat, tapi dari situasi yang Anda ciptakan”. Tetapi jargon ini sesungguhnya mentah apabila tidak dipahami secara proporsional. Sulit dipisahkan antara niat dengan sengaja menciptakan situasi tertentu. Sebab orang yang sengaja menciptakan situasi tertentu, katakanlah supaya orang lain berbuat tidak baik, pastilah karena didorong niat yang tidak baik pula. Hal ini berbeda seratus persen dengan keadaan yang tidak diniatkan karena keterbatasan alamiah yang tidak bisa dihindari. Orang yang belum menjawab pesan SMS, bukan berarti dianggap bertanggungjawab membuat orang menjadi su’udzon. Bagaimana mungkin dia dituntut bertanggungjawab, sementara dia tidak berdaya karena faktor eks yang di luar jangkauan dirinya? Tentu ini tidak berlaku apabila memang orang itu jelas-jelas secara meyakinkan sengaja mengabaikan pesan yang diterimanya. Sedangkan Tuhan Yang Maha Kuat, pernah menyatakan :

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya …” (terjemah penggalan QS. Al-Baqarah [2] : 286)

”Pak, saya banyak kehilangan relasi bisnis, gara-gara HP saya eror”.

”Saya juga banyak banyak kehilangan order”.

”Saya diputusin pacar, gara-gara dihubungi ga nyambung-nyambung”.

”Sama. HP jadul saya ini, sudah bikin orang salah sangka. Makanya ibu-ibu, bapak-bapak, adek-adek, jangan ”beriman” kepada HP. Syirik tuh. Beriman kepada Allah saja”.

Pada saatnya nanti, manusia bertanggung jawab penuh atas perbuatannya sendiri. Orang sering menuduh setan sebagi biang keladi dari kejahatan. Padahal setan hanya menggoda dan membujuk. Mau atau tidak kita mengikuti bujukannya, ada di tangan kita sendiri.Jikalaupun kita menuruti bujuk rayu setan, tetap saja eksekutor kejahatan itu ada di tangan manusia, bukan setan. Manusialah yang melakukan kejahatan yang kelak akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Tuhan. Sedangkan setan tidak bisa dituntut dan bertanggungjawab atas kejahatan yang diperbuat manusia.

”Dan ketika syaitan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: “Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu”. Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), syaitan itu balik ke belakang seraya berkata: “Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu; sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah”. Dan Allah sangat keras siksa-Nya.” (terjemah QS. Al-Anfal [8] : 48).

Ya Allah, ampuni saya. Wahai teman, maafkan saya.

Ciputat, September 2010.

abdul_mutaqin@yahoo.com