Seorang dosen astronomi yang sedang menggebu-gebu mengajar, terganggu dengan perilaku satu orang di belakang yang asyik dengan kegiatannya sendiri.
“Hai, kamu yang berdiri di belakang, coba sebutkan planet yang paling banyak satelitnya?”
“Maaf, saya tidak tahu, Pak”
“Kalau begitu sebutkan planet yang terkecil!”
“Maaf, saya juga tidak tahu, Pak”
“Kamu sama sekali tidak tahu? Minggu lalu kan saya sudah bilang, seluruh bahan harus dipelajari. Lalu buat apa kamu kemari?” sentak dosen dengan nada tinggi.
“Saya mau membetulkan kabel Pak, saya petugas PLN. Ada komplain dari kampus Bapak!”
Uppss

Humor dan hikmah
Menurut Anda malu tidak marah pada orang tapi salah alamat?
Sadarkan seringkali kita melakukan itu.
Biasanya marah salah alamat dilakukan superior pada bawahannya.
Orang tua pada anaknya, guru pada muridnya, bos pada bawahannya.
“Gimana sih, pintu kok tidak ditutup!”
“Bukan saya yang terakhir masuk.”
atau
“Lain kali kalau datang jangan terlambat!”
“Saya bukan terlambat, saya datang paling pagi, tapi barusan dari toilet”
atau
“Siapa nih yang menghabiskan roti saya, itu kan bekal saya?”
“Ada jamurnya, jadi dibuang!”
Salah alamat bisa berupa marah bukan pada orang yang tepat, menuduh pada orang yang salah, marah tanpa sebab, dsb.
Supaya tidak salah alamat, maka:
Jangan langsung bereaksi, check dan recheck dulu.
Jangan berpikir siapa yang salah, tapi berpikir dulu apa yang mungkin terjadi.
Jika kita gegabah menuduh akhirnya kita malu sendiri dan hilang respek orang kepada kita.
Semoga bermanfaat!