Di Gua Hira, Makkah, 610 M pada Senini 17 Ramadhan, awal pertama pergulatan batin seorang Muhammad untuk menapaki risalah kerasulannya. Kecenderungannya menyepi (tahannuts) dari ketidakseimbangan moral dan akhlak kaumnya yang masih jahili menjadi semacam persiapan psikologis pra Nabi dan Rasul sebelum mendapat stempel kewahyuan. Perjumpaannya dengan malaikat Jibril membawa pesan Tuhan, membawa berkah dan rahmat bagi alam semesta. Tanda-tanda kenabian yang dapat dibaca sejak usia kecilnya oleh seorang pendeta Bukhaira, semakin kukuh sejak lima ayat surat al-‘Alaq wahyu pertama diterimanya. Dan, Jibrilpun mendekapnya dengan erat seraya berujar :

“ Bacalah!”.

“Aku tidak dapat membaca”, jawabnya. Malaikat itu kemudian mengulang-ulang ucapannya dan Muhammad menjawabnya dengan jawaban yang sama, “Aku tidak dapat membaca”. Kemudian mengalirlah wahyu dalam tuntunan bacaan malaikat Jibril diperdengarkan kepadanya.

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajari manusia apa-apa yang belum diketahuinya”. (terjemah QS. al-‘Alaq [96] : 1 – 5).

Selepas itu, di kegelapan dini hari, beliau segera pulang menuju biliknya dalam keadaan cemas, pucat dan gemetar. Sesampainya di rumah, diceritakannya pengalaman yang baru saja dialami kepada isterinya, Khadijah binti Khuwailid. Dicurahkannya seluruh isi hati dengan rasa takut yang belum sirna seraya meminta dirinya diselimuti. Khadijah kemudian merangkul dan mendekap sang suami di dadanya. Dengan lembut dan penuh kasih Khadijah berujar : “Semoga Allah memelihara kita, wahai Abu al-Qasim! Bergembiralah wahai putra pamanku. Tenanglah. Demi Zat yang menguasai diri Khadijah, aku berharap engkau akan menjadi nabi ummat ini. Demi Allah, sungguh Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Bukankah engkau suka bersillaturrahim, senantiasa berkata jujur, suka menolong orang yang kesusahan, senantiasa menghormati tamu, dan sentiasa membantu orang yang tertimpa musibah”.

Tenang dan tentramlah hatinya mendengar kata-kata Khadijah. Berangsur-angsur sirna rasa cemas dan takutnya. Dan Khadijah membimbingnya berbaring di tempat tidur, memberikannya kehangatan jiwa hingga ia tertidur pulas. Perlahan Khadijah beranjak meninggalkan sang suami dalam tidurnya dan mempercepat langkahnya menuju rumah putra pamannya; Waraqah bin Naufal bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza al-Quraisy yang telah lanjut usia dan tidak dapat melihat. Waraqah seorang ahli kitab suci Kristen dan Yahudi di Makkah.

Selepas berbagi sapa dengan Waraqah, Khadijah menuturkan pengalaman yang baru saja terjadi pada suaminya. Waraqah terkejut dan gembira mendengar penuturan Khadijah. Selanjutnya Waraqah berkata , “ Demi Yang Maha Suci, dan demi Zat yang menguasai Waraqah ! Kalau benar apa yang Engkau ceritakan wahai Khadijah, sungguh telah datang wahyu agung kepada Muhammad sebagimana yang datang kepada Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa a.s. Sungguh, Muhammad akan menjadi Nabi Ummat ini. Katakalah kepadanya agar ia tenang”. Penjelasan Waraqah membesarkan hati Khadijah. Dan segera ia pamit menemui suaminya yang masih tertidur pulas.

Segera setelah Muhammad terjaga, Khadijah menyampaikan apa yang didengarnya dari Waraqah. Saat itu pula Khadijah mengajaknya bertemu langsung dengan Waraqah. Kedatangannya disambut seruan Waraqah, “ Demi Tuhan yang diriku berada di dalam kekuasaan-Nya! Sungguh, engkau adalah Nabi untuk ummat ini. Yang mendatangimu itu adalah Jibril yang telah datang menemui Musa bin ‘Imran. Sungguh Engkau akan didustakan dan disiksa. Engkau akan diusir dari negeri ini dan diperangi. Sungguh kalau aku masih hidup sampai pada saat itu, akau akan menolong agama Allah dengan pertolongan yang Allah lebih mengetahuinya”.

Lalu Waraqah mendekatkan kepalanya dan mencium ubun-ubun Muhammad. Muhammad bertanya,”Apakah saya akan diusir?”.

“Ya, tidak ada seorang pun yang membawa risalah kenabian seperti Enkau kecuali mereka dimusuhi orang-orang. Duh, seandainya aku masih muda saat itu. Seandainya aku masih hidup, aku akan menolongmu dengan sekuat tenaga”.

Begitulah sejarah mengungkap kisah wahyu pertama kali disampaikan kepada Nabi Muhammad saw. Inilah wahyu dalam kitab suci al-Qur’ān yang sarat dengan momentum belajar dan membaca. Wahyu yang istimewa bagi Muhammad sallallāhu ‘alaihi wasallam dan umatnya saat itu, kini dan mendatang. Keistimewaannya bukan karena ia adalah satu-satunya wahyu dalam al-Qur’ ān yang menggugah kesadaran ummat Islam tentang pentingnya belajar dan membaca, tetapi wahyu ini menjadi pembuka bagi 6324 ayat-ayatnya dan mengawalinya dengan perintah yang substansinya menjadi revolusi bagi kemajuan peradaban manusia; membaca. Wahyu ini menyiratkan, sebelum melaksanakan tugas-tugas kerasulan, Muhammad sallallāhu ‘alaihi wasallam lebih dulu diingatkan bahwa kemampuan membaca, menjadi kunci untuk menyibak rahasia di balik tugas-tugasnya kelak.

Membaca Itu Manusiawi

Lalu kita bertanya, bukankah Nabi dikenal sebagai orang ummi yang tidak mengenal tulis baca? Lalu mengapa Beliau diminta membaca?

Benar, Beliau memang tidak memiliki kemampuan membaca tulisan, bahkan hingga akhir hayatnya. Tetapi, Beliau memiliki kecerdasan (fathanah) ruhani sebagai salah satu sifat bawaaan sebagai seorang Rasul. Sifat inilah yang memberikannya kemampuan “membaca” persoalan yang menyangkut tugas-tugasnya berhadapan dengan subjek dakwahnya kelak. Juga benar perintah “iqra” diterima olehnya, tetapi pesan wahyu itu ditujukan pula kepada semua manusia sepanjang sejarah kemanusiaannya. Melalui wahyu yang Beliau terima ini, seorang muslim dan manusia umumnya diperintahkan untuk membaca, membaca apa saja objek di sekelilingnya. Baik segala sesuatu yang dapat ditangkap panca indera maupun bacaan dengan mengandalkan ketajaman naluri dan intuisi.

Kemampuan membaca yang dimiliki manusia, pada dasarnya merupakan anugerah yang diberikan Allah SWT. kepadanya. Sejak lahir, manusia membawa serta ilham, panca indra, akal dan agama. Tiga hal pertama yang disebut berurutan merupakan perangkat dasar dan pra syarat mengasah kemahiran bakat membacanya. Sedangkan agama merupakan bingkai atas apa saja objek yang harus dibaca yang dapat membawa kepada kebaikan dan kebahagiaan. Lihatlah kembali pada wahyu pertama itu, bukan saja perintah membaca terulang dua kali, tetapi membaca juga harus “bi ismi rabbika”, dengan nama Tuhanmu. Inilah bingkai dan acuan moral atas idealisme ketika membaca. Si pembaca bukan saja sekadar ikhlas dalam aktivitas membacanya tetapi juga harus cermat dalam memilah objek bacaan dari hal-hal yang bertentangan dengan semangat ke-Tuhanan. Mempertautkan “bi ismi rabbika”, dapatlah pula dipahami sebagai permohonan bimbingan Tuhan dari kesesatan dan ketidakberdayaan diri ketika membaca dengan mengandalkan naluri dan intuisi.

Tahukah kita, bahwa Allah SWT. Subhānahu wa ta’āla membekali manusia ilham, panca indra, akal dan agama bukan sekedar modal hidup an sich, tetapi berkorelasi dengan tugas manusia sebagai khalifah yang memiliki kewajiban membaca perpustakaan raksasa ciptaan-Nya, yakni alam semesta. Berulangkali Allah SWT. merangsang sensitifitas kecerdasan manusia agar mampu menguak dan memecahkan sebagian kecil misteri alam ini, misalnya QS. Yunus [10] : 10, al-Ghāsyiyah [88] : 17 – 20 atau al-Syu’arā [26] : 7 dan di beberapa tempat pada surat lain. Al-Qur’an mengingatkan kembali kepada kita kemampuan dasar manusia itu, sekaligus membimbingnya agar ilham, panca indra, akal dan agama diberdayakan secara optimal dalam membaca tanda-tanda kebesaran-Nya yang terbentang amat luas ini. Memang, jauh sebelum wahyu al-Qur’an diturunkan, manusia telah melakukan pembacaan atas alam raya meskipun sebatas kadar zamannya saat itu.

Pada zaman purba sebelum manusia mengenal tulisan, alam dibaca dalam nuansa primitif, di mana manusia membacanya baru pada taraf “bacaan mistis”. Alam dipandang dan dibaca sebagai sebuah kekuatan yang penuh misteri, serba asing, aneh, ganjil, gelap serta penuh rahasia. Mereka percaya bahwa alam adalah kekuatan mengerikan yang suka memusnahkan anak-anak mereka dengan menebarkan penyakit dan bencana. Dari sinilah tumbuh keyakinan, bahwa alam perlu dibujuk agar tidak murka dengan berbagai upacara, sesaji, persembahan, tumbal dan sejenisnya. Bacaan manusia atas alam pada zaman ini serba magis. Maka manusia kemudian melahirkan ritual, keramat, dan orangorang yang diyakini memiliki kekuatan supranatural untuk menaklukkan “roh” alam. Banjir dimaknai sebagai kemarahan penunggu sungai, kecelakaan dimaknai sebagai kemarahan penunggu pohon dan seterusnya. Maka peran dukun, orang pintar, kepala suku dan orang yang dianggap sakti menjadi sangat dihormati keberadaannya yang dianggap dapat mendamaikan mereka dengan kekuatan alam. Inilah cikal bakal perkembangan klenik dan perdukunan yang sekarang. Maka untuk beberapa alasan tertentu, bacaan mistis atas alam sampai kini masih tetap dipertahankan dengan kemasan modern, digital dan canggih.

Zaman di mana manusia telah mengenal tulisan, ia tidak lagi membaca alam berangkat dari nol, merangkak dan tertatih-tatih, tetapi mereka mampu melakukan lompatan besar dalam sejarah peradabannya. Seringkali peninggalan dari peradaban sebelumnya, manusia berhasil membangun peradaban baru berkat kemampuan baca tulisnya itu. Tidak kurang dari 27 peradaban baru telah lahir sejak peradaban Sumeria hingga kini. Sikap manusia terhadap alampun telah mengalami pergeseran yang cukup signifikan.

Perlahan-lahan, pola pikir dan pola baca manusia terhadap alam semakin berkembang seiring bergulirnya waktu. Manusia telah berangkat meninggalkan fase bacaan mistis, memasuki maqom yang lebih tinggi yakni taraf “bacaan ontologis”. Berangsur-angsur mereka dapat menyibak tabir mengenai rahasia, karakter dan perilaku alam semesta secara lebih rasional. Manusia telah dapat memahami tentang apa, bagaimana dan mengapa terjadi banjir kaitannya dengan erosi. Bagaimana petir terjadi, hakikat terjadinya hujan, penyakit dan kuman, manfaat humus bagi tanaman dan sebagainya. Alam tidak lagi dilihat sebagai kekuatan tersendiri yang menakutkan dan perlu dibujuk pada satu sisi, dan manusia adalah mahluk tersendiri pula pada sisi yang lain. Tetapi mereka telah dapat memahami bahwa alam adalah bagian dari dinamika hidupnya yang tidak lepas dari sebab dan akibat. Tentang banjir misalnya, manusia sudah dapat membacanya dengan lebih cerdas. Bahwa banjir terjadi akibat curah hujan yang tinggi yang menggenangi dataran rendah, karena erosi, sumbatan saluran air atau sungai atau karena sebab lain secara lebih rasional.

Zaman kini, manusia telah sampai pada kemampuan membaca alam pada taraf “bacaan fungsional”. Manusia telah memiliki pemahaman teknis untuk memanipulasi dan memanfaatkan alam semesta untuk kepentingan hidupnya. Dalam batas-batas tertentu, kekuatan alam telah dapat didisain dan dirancang untuk membantu kepentingan manusia. Angin atau air dapat diajak ”bekerja sama” untuk menggerakkan kincir dan turbin yang menghasilkan listrik. Panas matahari bukan hanya sekedar untuk mengeringkan pakaian atau bahan makanan, tetapi telah mampu didisain sebagai sumber energi yang murah dan ramah. Dan sebagainya. Di sini, kemampuan manusia membaca alam menjadi revolusi bagi sejarah hidupnya. Sekarang, manusia telah dapat melihat dan mendengar dalam jarak indera yang tak terbatas tanpa sekat dinding-dinding peradaban masa lalu yang menghalanginya. Manusia dapat berjalan secepat angin dan tidak lagi mesti di atas bumi, melainkan di atas gumpalan awan dan cakrawala. Setiap saat, kecanggihan membaca manusia selalu dapat melahirkan produk budaya terkini. Sesuatu yang dahulu tak terbayangkan atau dipikir tidak mungkin, menjadi sesuatu yang nyata terjadi. Kemampuan membaca manusia telah mengantarnya kepada gerbang peradaban dunia yang tanpa batas.

Subhanallah, Iqra sangat manusiawi dan Al-Qur’an tahu betul bahwa manusia sangat membutuhkannya. Tepat 14 abad yang lalu saat Iqra diwahyukan, terasa benar bahwa ia akan tetap relevan pada setiap zaman.

Iqra tidak boleh lepas dari bismirabbik. Wahyu iqra mengingatkan para pembaca agar bacaannya tidak lepas kendali, meskipun peradaban telah menembus segala tembok pemisahnya. Kecerdasan manusia membaca dan mengantarnya membuka peradaban maju, janganlah sampai melupakan hakikat kebenaran yang datang dari Allah apalagi mendurhakai-Nya. Sebab jika demikian, manusia akan dianggap sebagai kufur atau tidak tahu berterima kasih kepada Allah yang telah memberikan padanya kemampuan membaca. Allahu ’alam.

Budaya Membaca di Kalangan Kita

Membaca sebagai budaya untuk memperoleh informasi dan pengetahuan telah semakin banyak menyadarkan orang di berbagai belahan dunia. Semestinya yang paling menyadari dan bergembira dengan anugerah kemampuan membaca adalah umat Islam, umat yang diturunkan kepada Nabi dan mereka iqra. Bukan dunia lain, apalagi bukan umat Muhammad shallallaahu ’alaihi wa sallam. Sayangnya, kesadaran untuk itu belumlah merata di kalangan muslimin. Kita belum menjadikan membaca sebagai kebiasaan hidup, tetapi baru sebatas saat dibutuhkan dalam satu segmen hidup. Secara tidak kita sadari, kitab suci kita pun tidak luput dari perilaku ini. Ia disentuh dan dibuka lembaran-lembarannya hanya saat kematian, saat hari-hari khusus dan begitu semarak saat Ramadhan. Tetapi setelah Ramadhan pergi, kembali lagi Al-Qur’an dan iqra di”lupa”kan.

Yang sungguh-sungguh memalukan dan memilukuan, masih tersisa umat Islam saat ini yang menjadikan Al-Qur’an sebagai bacaan tetapi dengan pola bacaan mistis. Astaghfirullah, Al-Qur’an dijadikan sebagai jimat dan isim, sebagai pengisi kekebalan, sebagai mantera pemikat. MasyaAlah, sungguh pesan Al-Qur’an sebagai petunjuk kepada tauhid telah dikotori dengan cara-cara seperti itu.

Dalam konteks membaca literatur, katanya, minat baca anak Indonesia sangat memprihatinkan. Berdasarkan studi lima tahunan yang dikeluarkan oleh Progress in International Reading Literacy (literecy) Study (PIRLS) pada tahun 2006, yang melibatkan siswa sekolah dasar (SD), hanya menempatkan Indonesia pada posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel penelitian.

Development Index (HDI) yang dikeluarkan oleh UNDP untuk melek huruf pada 2002 menempatkan Indonesia pada posisi 110 dari 173 negara. Posisi tersebut kemudian turun satu tingkat menjadi 111 di tahun 2009.

Berdasarkan data CSM, perbandingan jumlah buku yang dibaca siswa SMA di 13 negara, termasuk Indonesia juga menunjukkan keprihatinan. Di Amerika Serikat, jumlah buku yang wajib dibaca sebanyak 32 judul buku, Belanda 30 buku, Prancis 30 buku, Jepang 22 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, dan Indonesia 0 buku.

Haaa! Masssaa?

Ayyuhal ikhwan! Iqra biismirabbikalladzii kholaq. Kholaqolinsaana min ’alaq. Iqra wa rabbukal Akram. Alladzii ’Allama bil qolam. ’Allamal insaana maa lam ya’lam!.

Semoga 17 Ramadhan dan nuzul al-Qur’an akan memacu kita membaca dengan ”bismirabbik”.

Depok, 17 Ramadhan 1431 H, Catatan hari ke-17, Agustus 2010.

Abdul Mutaqin