Bapak Doni (bukan nama sebenarnya), sedang berada di depan saya untuk berkonsultasi mengenai masalah keluarganya. Anaknya Bayu, usia 17 tahun tidak bersekolah, karena punya gangguan emosi menurut Ayahnya. Tiga tahun belakangan ini ayahnya sering menjadi sansak hidup, alias dipukul dan ditendang oleh Bayu. Hah… Ya para pembaca sekalian ini kasus nyata, dan kasus seperti ini bukan yang pertama saya alami, saya pernah menerima serupa beberapa kali.

Apa yang terjadi? Ternyata masalah ini tidak terjadi begitu saja, ada asap pasti ada api. Nah siapa yang memunculkan api? Orangtua? Betul, lha apa yang terjadi? Pak Doni bercerita, bahwa ia memiliki Istri yang cukup bermasalah dengan perilaku dan emosinya, saat anak saya Bayu berusia 4 tahun kami bercerai. Saat bayu berusia 0-4 tahun Istri saya saat itu sering marah-marah, maki-maki Bayu jika tidak menurut bahkan maen pukul terhadap Bayu kecil. Terhadap Pak Doni juga tidak kalah “sadis”.

“Istri saya cantik sekali, muka Bayu tampan. Seperti Istri saya, Istri saya cantik Pak” ungkapnya kepada saya. Sambil matanya menerawang ke atas, saya paham menceritakan ini seperti memutar kejadian pilu bagi Pak Doni, lalu cerita berlanjut. “Saat Bayu berusia 10 tahun saya menikah dengan istri ke-2, dia seorang janda”. “Dia serumah dengan saya hanya 5 bulan saja, setelah itu dia kembali ke rumah orangtuanya”, hal ini dikarenakan istri ke-2 tidak tahan melihat kelakuan Bayu yang mulai agresif, aktif dan menjurus ke kasar dan cenderung menyakiti. Cara berkomunikasinya mulai kasar dan “jorok” alias mulai suka ngomong kotor kepada orangtuanya.

Pembaca sekalian, apa yang ada dibenak kita saat membaca sepenggal kasus diatas? Mbulet? Kacau? Yah, beginilah resiko berkeluarga. Ya, setiap kita memilih berkeluarga pasti ada resikonya, keluarga yang bahagia atau yang amburadul. Ada baiknya mendengar petuah orang-orang jaman dahulu, sebelum berkeluarga yang selalu menekankan bibit, bebet dan bobot. Arti Bibit adalah rupa (Harafiah: asal-usul, keturunan), Bebet adalah keluarga, lingkungan dan Bobot adalah nilai pribadi atau diri yang bersangkutan. Bobot disini termasuk kepribadian, pendidikan dan kepintarannya, pekerjaan juga nilai pribadi seperti gaya hidup dan IMAN.

Saya banyak menemui banyak pasangan yang belum saling mengenal secara mendalam satu sama lain. Saat saya memberikan workshop mengenai keluarga, banyak dari pasangan hening sejenak ternyata banyak dari mereka yang belum mengenal Bebet dan Bobotnya. Kalau Bibit sangat mudah dikenali, sedangkan nilai-nilai yang tidak terlihat kasat mata, sangat sulit di kenali (nilai dalam keluarga, kepribadian, lingkungan saat kecil, dan lain-lain)

Berkaca dari kasus diatas, seorang istri yang cantik (Bibit), tetapi punya gangguan emosi (Bobot) yang mungkin masih ada ganjalan yang belum terselesaikan, dan ini sangat mungkin tidak dikenali oleh Pak Doni saat berpacaran hingga menuju kepelaminan. Sehingga usia pernikahan mereka terhenti ditahun ke-5. Dan yang menjadi korban adalah anak mereka, yang sampai saat ini memiliki harga diri yang rendah, saat melihat kaca selalu memukuli dirinya sendiri karena dia merasa jelek, jika sang Ayah menghentikannya maka Bayu langsung memukuli Ayahnya. Kata-kata pujian saat ini sudah tidak mempan lagi.

Banyak pasangan yang datang pada saya berkeluh kesah, mempertanyakan kenapa dulu dia “begini” saat belum menikah dan “begitu“ saat telah menikah? Bagaimana dengan pasangan kita, apakah kita sudah mengenalnya dengan baik, dan menerima pasangan kita apa adanya? Tidak ada masalah jika anda terlambat mengenalinya, yang penting ada usaha dari kita mengenali pasangan kita lebih dan lebih dalam lagi dan menerima pasangan kita apa adanya.

Saat kita menikah dengan pasangan kita, ada satu hal yang tertinggal yaitu manual book tentang pasangan kita, bagaimana cara menggunakannya? Kita tidak tahu itu? Beda dengan handphone yang kita beli, saat beli handphone kita dengan mudah mengenali kemampuan handphone baru itu. Jika kita mau berusaha mengenali pasangan kita, maka kita dengan mudah tahu bagaimana caranya berelasi dengan pasangan kita, dan akan sangat mudah menjaga keharmonisan rumah tangga.

Ada banyak buku tentang test kepribadian yang bisa Anda beli ditoko buku, sebagai langkah awal yang mudah. Dari test kepribadian tersebut akan memberikan gambaran awal bagaimana Anda berperilaku dan berkomunikasi yang tepat, dengan pasangan Anda. Dan pelajari juga bagaimana cara mencintai pasangan Anda, buku-buku demikian juga mulai banyak di toko buku.

Tantangan kita, sebagai orang yang sudah menikah adalah bagaimana mencintai pasangan kita lebih lagi daripada kemaren. Dan sebenarnya tidak ada pernikahan yang gagal jika kita mampu mengendalikan dan melepaskan ego kita.