Di dalam diri saya terdapat sedikit pertanyaan, kenapa sih orang lain senang sekali membahas masalah orang lain, kata seorang kawan karena ia tidak mau sahabatnya terjerumus dalam kesesatan dan kesalahan, makanya itu ia membicarakan masalah tersebut pada orang lain untuk mencarikan solusinya, dan orang lain yang diceritakan itupun mempunyai niat yang sama menceritakan pada orang lain lagi, agar orang lain yang diceritakan tidak melakukan kesalahan yang sama dan membahas bagaimana jalan keluarnya. Mereka layaknya seorang konselor yang luar biasa membahas kasus orang lain dan agar lebih asyiknya membahasnya bersama-sama, layaknya perkumpulan para konselor. Dan mereka pun menjabarkan hal yang sama persis pada orang lain untuk mendapatkan solusi yang tepat untuk si yang punya masalah, tapi sayangnya mereka hanya membahas masalah itu, dan menyebarkan masalah itu ke orang lain, yang seharusnya orang lain tidak perlu tahu tentang masalah itu. niatnya memang begitu mulia untuk mencarikan solusinya. Dan ketika mereka asyik berbincang tak lupa mereka menarik sebuah hikmah dari masalah yang ada pada orang tersebut. Dan lagi-lagi mereka menceritakan hikmah yang di dapat pada orang lain dengan identitas yang disebutkan. Mungkin karena yang diberitahu penasaran siapa orangnya dan yang menceritakan ada perasaan kurang puas ketika belum menyebutkan identitasnya
.
Mungkin kasus yang paling sering adalah pacaran, wah ternyata sih A pacaran dan ternyata si A ketahuan pacaran oleh si B, dan Si B ini menceritakan kasus si A kepada si C dan D dan membahasnya dengan identitas yang lengkap dan mencarikan solusi tersebut, tapi sayang mereka tidak menasehati si A, malah menceritakannya pada orang lain lagi, dst.

Entah apakah mereka belajar etika atau tidak tentang konseling, wahai sahabatku jika engkau melihat sebuah kesalahan dari sahabatnya tolong ingatkan saudaramu, bukan menceritakan pada orang lain, dan orang lain menceritakan pada orang lain lagi, jika engkau ingin mengambil hikmah dari sebuah kejadian saudaramu maka janganlah kau sebutkan nama atau identitasnya. Seorang konselor saja hanya boleh menceritakan kasus orang lain pada orang lain atau sesama konselor harus dengan persetujuan orang yang bersangkutan, demi nama baik dan harga diri orang tersebut. Wahai sahabatku Allah menyuruh kita untuk saling menasehati bukan untuk membicarakan masalah orang lain pada orang yang tidak berhak menerima informasi tersebut. Wahai sahabatku masih banyak persoalan lain yang perlu kita bahas, masih banyak objek dakwah yang belum tersentuh oleh kita dan kita malah sibuk untuk membicarakan aib saudaranya, wahai sahabatku, tahukah engkau bahwa cerita itu benar maka itu dinamakan gibah, dan kalau tidak salah ghibah itu seperti memakan bangkai saudaranya sendiri, dan kalau cerita itu tidak benar maka itu termasuk fitnah, dan fitnah itu dapat membunuh orang lain secara perlahan-lahan, membunuh karakternya, membunuh aktifitas dakwahnya, bahkan membunuh tubuhnya. Yaa Allah maafkanlah sahabatku yang telah bergunjing mungkin karena mereka lupa atau tidak tahu karena engkau adalah Maha Pemaaf, dan tuntunlah mereka yang suka bergunjing ke dalam syurgaMu yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.