Wah sudah lama juga saya tidak menyapa sahabat-sahabat semua, beberapa minggu ini ngga tahu kenapa curahan hati dari teman-teman saya rata-rata mengenai pernikahan, padahal saya ini belum menikah, ketika saya sedang pusing memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan mestikah menikah didasari dengan cinta? tanpa sengaja seorang kawan saya yang bernama Fisha Virlia mengirimkan sebuah pesan kepada saya yang begitu bagusnya, dan semoga artikel ini bermanfaat khususnya bagiku dan umumnya untuk yang bertanya dan sahabat semua.
Pak Pur, begitu orang-orang biasa memanggil laki-laki tua yang usianya telah menginjak 80 tahun itu. Termasuk dokter dan perawat yang beberapa hari ini menanganinya beberapa hari ini. Seluruh rambutnya telah memutih. Kulit-kulitnya pun telah mengeriput. Namun ia masih dapat dikatakan masih kuat dan masih dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang cukup berat. Organ-organ tubuhnya masih berfungsi dengan baik. Begitu pula dengan pendengaran dan penglihatannya. Kalau pun saat ini Pak Pur harus menginap di rumah sakit, itu karena ia terserang usus buntu hingga harus menjalani operasi.

Pak Pur sudah terbangun sejak tadi. Sebelum adzan subuh berkumandang. Ia duduk bersandar. Sementara jemari tangannya tak henti bergerak seperti orang yang sedang menghitung sesuatu. Namun sebenarnya, Pak Pur tidak sedang berhitung. Ia sedang berdzikir, mengingat sekaligus menyebut nama Rabb yang telah menciptakannya.

Tiba-tiba pintu ruang perawatannya terbuka. Pak Pur menoleh ke arah pintu. Seorang perawat masuk ke dalam ruang perawatan Pak Pur dan menyapanya hangat.

“Pagi, Pak Pur,” ujar sang perawat seraya mendekati jendela kamar. Ia membuka gordyn kamar yang masih tertutup rapat hingga cahaya matahari pagi pun masuk ke dalam ruangan.

“Pagi juga, Mbak Sus,” sahut Pak Pur yang terbiasa memanggil para perawat wanita rumah sakit dengan sebutan Mbak Suster.

Sang perawat menghampiri Pak Pur. Ia memeriksa botol infus Pak Pur dan juga denyut nadi Pak Pur.

“Pak Putra sedang keluar, Pak,” tanya sang perawat menanyakan anak pertama Pak Pur yang pagi itu tidak terlihat menemani.

“Sedang mandi, Mbak Sus,” jawab Pak Pur. “Ehm…..Mbak Sus, apa saya sudah boleh pulang hari ini?.”

Sang perawat tersenyum kecil.
“Saya tidak tahu, Pak. Itu tergantung pada dokter setelah memeriksa kondisi Bapak nanti,” jawab sang perawat ramah.

“Jadi masih harus menunggu dokter ya?,” suara Pak Pur terdengar tidak bersemangat lagi.

Sang perawat hanya menganggukkan kepala dan tersenyum.
“Wah…sudah kangen rumah ya, Pak?!,” tanyanya kemudian.

“Sudah pasti, Mbak Sus. Seenak-enaknya fasilitas rumah sakit, tetap lebih nyaman di rumah sakit.”

Si perawat kembali tersenyum mendengarnya.
“Bukan cuma kangen rumah, tapi juga kangen istri, Mbak Sus. Biarpun di sini banyak mbak suster yang muda dan cantik, saya tetap lebih suka berada di rumah, di dekat istri yang sangat saya cintai.”

“Betapa indahnya jika jalinan cinta bisa terus bertahan hingga seusia Bapak. Boleh tahu apa resepnya, Pak?.”

Pak Pur malah tertawa kecil mendengar pertanyaan perawat.
“Lho? Kenapa tertawa? Apa pertanyaan saya terdengar lucu, Pak?.”

“Iya! Lucu, Mbak Sus!,” jawab Pak Pur disela tawanya.

“Apanya yang lucu?,” si perawat kian terheran-heran.

“Ya, lucu. Wong saya bukan dokter, bukan perawat, bukan apoteker, kok ya ditanya apa resepnya. Biasanya yang suka memberikan resep itu kan dokter, yang mengerti resep itu perawat, yang meramu resep itu apoteker. Bukannya pasien,” jawab Pak Pur mengungkapkan alasannya tertawa.

“Ya, itu bila berkaitan dengan kesehatan atau pengobatan. Tapi bila sudah menyangkut masalah kehidupan, yang ahli tentulah bukan seorang dokter, tapi orang-orang yang telah banyak memakan asam garam kehidupan seperti Bapak,” sahut sang perawat. Ia pun duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur.

“Tapi Bapak merasa bukan ahlinya meski sudah hidup 80 tahun.”

“Bagaimana pun, sudah banyak pengalaman yang Bapak dapatkan. Berbagilah sedikit pengalaman itu kepada saya. Bukankah pengalaman itu guru yang sangat berharga? Pengalaman Bapak akan menjadi ilmu bagi saya,” kata perawat itu. Sepertinya ia benar-benar telah siap mendengarkan resep rahasia milik Pak Pur.

Pak Pur tersenyum. Perawatnya yang satu ini memang yang paling baik, paling perhatian, paling lemah-lembut, paling sabar, juga paling pintar. Kalau saja ada seorang anak laki-lakinya yang belum menikah, pastilah akan dipinangnya perawat itu untuk anak laki-lakinya. Meski Pak Pur memiliki 3 anak perempuan dan 5 orang anak laki-laki, semuanya telah menikah dan memberikan 12 orang cucu padanya.

“Mbak Sus, tadi mbak Sus mengatakan betapa indahnya jalinan cinta antara Bapak dan istri Bapak. Tapi, apa Mbak Sus percaya kalau Bapak menikah bukan karena cinta?.”

“Apa? Bapak menikah bukan karena cinta? Bukankah biasanya pernikahan itu dilandasi oleh rasa cinta? Apa mungkin membangun sebuah rumah tangga tanpa rasa cinta di dalamnya?.”

Pak Pur lagi-lagi tersenyum.
“Bukan tanpa rasa cinta, tapi tidak didahului oleh rasa cinta sebelumnya, juga tanpa percintaan sebelumnya.”

“Maksud Bapak, tanpa didahului dengan pacaran seperti orang-orang kebanyakan? Dan sebelumnya, Bapak tidak mencintai istri Bapak itu?.”
“Tepat!,” jawab Pak Pur cepat.

“Lalu bagaimana Bapak bisa bertemu dan menikahi istri Bapak?.”

“Sama seperti Siti Nurbaya, dijodohkan!.”

“Dijodohkan?!.”

“Ya. Saat jaman Bapak dulu, masih banyak orang-orang yang menikah dengan dijodohkan oleh orang tuanya. Termasuk Bapak di antaranya. Hanya saja, jika Siti Nurbaya dijodohkan dengan dipaksakan karena orang tuanya terlilit hutang, Bapak dijodohkan memang karena budaya masyarakat daerah Bapak waktu itu. Tetapi kami tidak dipaksakan. Semuanya tetap melalui persetujuan kami sebelumnya.”

Perawat itu menyimak dengan penuh perhatian.
“Saat awal pernikahan, mungkin memang sulit bagi kami. Dia sangat asing bagi Bapak. Dan rasanya sangat sulit menyesuaikan diri dengannya. Tapi kebersamaan dengannya setiap hari, mencairkan semua kebekuan, menumbuhkan rasa saling membutuhkan juga cinta di dalam hati kami. Hingga akhirnya kami tetap terus mengarungi samudra pernikahan bersama-sama hingga hari ini dengan penuh kebahagiaan.”

“Subhanallah. Luar biasa, Pak. Lalu apa resepnya?.”

Pak Pur tersenyum kembali.
“Bukan resep, tapi pengalaman.”

“Apa pun itu namanya, Pak. Katakanlah!,” desak si perawat.

“Nak,” entah kenapa kali ini Pak Pur mengubah panggilannya pada perawatnya. “Selama ini, banyak orang yang menikah karena cinta, tapi ketahuilah cinta sejati itu adalah cinta yang tumbuh setelah akad nikah. Dan cinta itu bukan segalanya. Masih ada hal lain yang tak kalah pentingnya untuk tetap menjaga rasa cinta itu, untuk tetap dapat merasakan kebahagiaan dalam perjalanan panjang mengarungi luasnya lautan kehidupan.”

“Apa itu, Pak?.”

“Komitmen!.”

“Komitmen?.”

“Ya, komitmen!,” tegas Pak Pur. “Saat orang tua kami menjodohkan, istri Bapak hanyalah seorang guru mengaji yang tidak mendapatkan ilmunya dari ayahnya yang menjadi imam masjid desa tetangga. Dia tidak mendapatkan penghasilan dari mengajar mengaji. Penghasilannya hanya didapatkannya dari menjahit pakaian. Akhlaknya dikenal sangat baik. Karena itulah Bapak percaya ia bisa menjadi istri dan ibu yang baik meski sebelumnya kami tidak saling mengenal dan tidak saling mencintai. Saat itu kami sepakat untuk membina pernikahan yang dilandaskan oleh ketakwaan pada Allah dan seperti apa yang telah diajarkan Rasulullah,” Pak Pur mengisahkan.

“Dan itulah komitmen kami. Komitmen yang kami pegang teguh sejak awal pernikahan hingga hari ini. Komitmen itu yang mengikatkan hati kami. Komitmen itu yang menjadi penyulut api cinta di hati kami karena komitmen akan menumbuhkan rasa setia pada nilai yang dipegangnya. Komitmen juga dapat melahirkan kesetiaan yang lebih tulus terhadap pasangan.

Nak, ketika kemesraan dan kasih sayang telah pudar, tak ada lagi yang dapat melanggengkan hubungan karena hanya komitmenlah perekat yang paling kuat. Nak, betapa banyak pernikahan yang di awalnya begitu mengagungkan cinta mereka, namun harus berakhir di tengah jalan seiring banyaknya permasalahan yang mendera dan cinta yang mereka agungkan dulu kian memudar. Kau tahu mengapa? Itu karena tidak ada komitmen di antara mereka. Komitmen yang mengokohkan cinta mereka. Sehingga ketika cinta itu menghilang dari hati mereka, mereka tidak berusaha untuk menghadirkan cinta itu kembali. Dan pernikahan itu pun berakhir seiring berakhirnya cinta di hati mereka.

Jika saja mereka memiliki komitmen yang kokoh, mereka akan berusaha tetap setia pada komitmennya sehingga mereka akan berusaha menghadirkan cinta itu kembali hingga bersemi indah di hati mereka lagi. Nak, satu hal yang perlu kau ingat, cinta itu adalah kata kerja, bukan kata benda,” ujar Pak Pur panjang lebar.

“Jadi resepnya adalah komitmen?!.”

“Ya. Komitmen yang kokoh, terutama komitmen kepada agama, komitmen kepada Tuhan yang telah mengambil perjanjian yang sangat berat dari kita saat pernikahan itu terjadi. Nak, perbedaan itu pasti ada, permasalahan itu pasti muncul, itu semua adalah hujan badai yang harus dilalui selama melayari samudra rumah tangga. Maka, jangan pernah ada kata lelah untuk saling memahami.”