“Sob, calon suamiku lebih muda usianya dariku.”

Pernyataan gitu engga cuma sekali kudengar. Sudah banyak wanita yang memiliki suami berusia lebih muda darinya. Cuma nih, banyak juga orang beranggapan menikah dengan pria yang usianya lebih muda, justru menimbulkan banyak masalah. Benarkah?

Ada kekhawatiran memang, ketika seorang wanita mendapatkan suami yang lebih muda, pada saat usianya semakin senja, keadaan fisiknya mengalami perubahan seiring dengan bertambahnya usia. Suami dikhawatirkan akan berpaling kepada wanita yang relatif lebih muda dan lebih menarik. Waduuuh, gitu ya? Hmmm….

Kekhawatiran seperti itu sebenarnya ga perlu ada. Menurut pakarnya gitu. Apabila kita telah mempunyai dasar pemikiran yang benar, komitmen yang kuat dan rasa percaya terhadap pasangan, juga hati yang ikhlas dan ridha atas apapun yang akan terjadi nantinya merupakan perjalanan dari apa yang Allah tetapkan. Suami menyeleweng, itu kan bukan hanya dilakukan oleh suami yang istrinya lebih tua. Semua tergantung pada bagaimana ia memandang arti sebuah pernikahan. Kembali pada masalah akidah dan keimanannya, juga pada corak pribadi masing-masing (suami dan istri). Bagaimana cara mereka mengolah masalah yang kira-kira akan muncul dan bagaimana mengatasinya.

Ada yang berpendapat, suami lebih muda punya kelebihan dalam memimpin keluarga, lebih bersemangat dalam mencari nafkah dan mencari ilmu. Wallahu A’lam.Di lain pihak, ada juga yang meragukan sifat kedewasaan dan kearifan sang suami muda ini sebagai kepala keluarga. Jangan-jangan,nanti justru istri yang harus mengayomi suami.

Kali ini, masalah dari segi prikologis yang diungkit. Padahal nih, kedewasaan tidak dapat dikaitkan dengan usia seseorang. Ada kekhawatiran kedewasaan suami tidak bisa mengimbangi kedewasaan istri. Menurut Dr. Ahmad Lutfi Fathullah, MA kematangan mental seseorang untuk menikah sangat dipengaruhi oleh pola asuh dan pendidikan yang diterapkan dalam keluarga. Dampak psikologis yang umum terjadi pada pasangan seperti ini adalah istri yang memiliki rasa cemburu yang lebih besar dibanding pasangan lainnya. kekhawatiran dan anggapan kalau sang suami mulai menganggapnya tua dan mulai melirik wanita yang lebih muda. Pada suami, umumnya memaksakan dirinya untuk bisa tampli lebih dewasa dibanding sang istri. Wallahu A’lam. Namun, sekali lagi, menurut pakarnya, hal ini bukan masalah besar. Keputusan tetap di tangan pasangan yang bersangkutan. Sejauh mana mereka mengenal pasangan untuk bisa membuat kesepakatan demi mewujudkan keluarga yang samara.

Masalah lain adalah masih adanya anggapan miring dalam masyarakat terhadap pernikahan seperti ini. Hal seperti ini bisa mempengaruhi niat pasangan untuk menikah. Kemantapan hati adalah solusinya. Jika kemantapan hati sudah ada, umumnya apapun kata orang tidak akan berpengaruh besar. Sesuatu hal yang baik atau buruk tidak diukur oleh enggapan orang lain, suara mayoritas manusia, melainkan apa yang baik bagi manusia menurut keimanan yang benar. Pendapat sinis orang-orang tidak usah ditanggapi.

Setelah dibahas dari berbagai segi, pernikahan seperti ini dapat berjalan dengan baik, masalah yang dihadapai dapat diselesaikan dengna baik. Kita juga tau bagaimana pernikahan Rasulullah SAW dengan Bunda Khadijah (ra). Landasan hubungan yang kuat jauh-jauh hari sebelumnya harus dibangun. Dari sejak awal, cobalah untuk saling mengerti dan memahami sudut pandang masing-masing. Sekali lagi, kalau sudah merasa cocok, siap dengan segala resiko, ya jalani saja. Kebahagiaan suatu pernikahan tidak melulu ditentukan oleh masalah perbedaan usia.

Terkadang, cepat atau lambatnya kita mendapatkan pasangan dapat juga disebabkan oleh kita sendiri, dari mulai kriteria calon pasangan yang harus begini dan begitu, dari mulai masalah usia sampai pendidikan serta “tetek bengek” lainnya.

Moga tulisan ini dapat menjadi motivasi bagi siapa saja yang sedang proses membulatkan niat untuk menggenapkan agama…

wallahu A’lam.

[Sumber: sumber utama Majalah Nabila dan beberapa sumber tambahan lainnya termasuk Abi Dzaki myQ, dengan sedikit tambahan oleh Abu Qori]