Apakah teman-teman pernah merasa bahwa teman-teman merasa lebih tinggi dibandingkan orang lain, teman-teman merasa lebih mampu dari orang lain, teman-teman merasa nantinya teman-teman yang akan lebih dominan (memimpin) dari orang lain di organisasi yang teman-teman ikuti. Yaa saya pun pernah merasakan hal yang sama, seperti teman-teman semua, kemudian saya bertanya pada diri saya pribadi, apakah semua rencana yang saya pikirkan akan terjadi persis sama dengan hal yang saya harapkan. Teman-teman boleh memiliki prediksi (pemikiran) yang sangat baik dan teman-teman merasa yakin bahwa rencana itu yang terjadi nanti didepannya, padahal kita pun tidak tahu semenit kedepannya gimana diri kita, apalagi yang memprediksi jauh ke depan, wahai sahabatku Allah itu Maha Berkehendak, yang kau prediksi bisa saja berubah total, dan tidak terjadi sama sekali yang kau harapkan atau yang kau takutkan. Saya teringat kisah Nabi Musa a.s yang pada suatu saat merasa dirinya adalah yang paling tahu, paling faham tentang segala sesuatunya, kemudian Allah menegurnya lewat Nabi Hidir, wahai Musa sesungguhnya pengetahuanmu sangat sedikit tentang dunia ini.
Bahkan kita kalah dengan seorang anak yang jauh lebih kecil dari kita dan dapat dikatakan belum dewasa.
Saya teringat kisah sebuah negri yang dipimpin oleh seorang anak kecil yang umurnya belum dapat dikatakan dewasa. Kok bisa ji, gimana ceritanya? Pertama kali disebuah negri terjadi krisisis ekonomi, kemudian si khalifah ini sangat kebingungan apa yang harus dilakukan, hingga suatu hari sang khalifah ini berjalan-jalan ke luar dari istananya. Dan selesai shalat ia bertemu dengan seorang anak kecil yang mengajak si Khalifah ini untuk bermain bersama, dan si khalifah ini sangat menghargai keinginan anak kecil ini untuk bermain, bermain guru-guruan dan si anak menjadi gurunya, dan si Khalifah menjadi muridnya, dan si anak itu membuka dan mengajarkan buku IPSnya tentang bab ekonomi, dan si anak itu menceritakan tentang baitul mall, gimana semua zakat infak dan shadaqah dikelola di dalam suatu kesatuan dan diwajibkan bagi yang mampu dan yang masih berlebih dananya bisa disalurkan disana dan dikelola dengan baik. Ternyata si khalifah ini menerima pendapat si anak kecil tersebut untuk membuat baitul mal dan seluruh zakat infak dan shadakah disalurkan kesana, dan si anak kecil juga mengajarkan pula tentang hidup yang sederhana. Dan si khalifah itu langsung memangkas seluruh pendapatan stafnya untuk memutar perekonomian negaranya, dan ternyata hasilnya luar biasa negri itu menjadi negeri yang kaya raya dalam beberapa tahun.
Waah jii, itukan yang memimpin seorang khalifah bukan anak kecil, yang memutuskan, kan si khalifah tersebut bukan anak kecil. Memang di negri tersebut yang menjadi pemimpinnya adalah si khalifah tapi yang sebenarnya adalah anak kecil tersebut yang memimpin, karena ia menyarankan pendapatnya (nasehatnya) kepada si khalifah dan khalifah itu menjalankan apa yang dikatakan oleh si anak kecil.

Anda tidak bisa menolak ketika adik anda meminta tolong pada anda.
Orang tua anda tidak bisa menolak ketika adik anda membelikan mainan, ketika adik anda merengek meminta mainan.
Ibu anda menuruti perintah adik anda untuk menemaninya bermain padahal ia harus masak.
Jadi siapa yang memimpin dikeluarga anda?
Seorang anak kecil.
Seorang dapat dikatakan pemimpin ketika ia dapat menyarankan apa yang ada di dalam dirinya dan mampu mengajak orang lain untuk melakukan apa yang diinginkannya.
Makasih anda ikhlas untuk menjadikan saya seorang pemimpin diantara kalian, teman-teman sudah membaca seluruh atau sebagian tulisan-tulisan saya di notes, dan grup (forum pecinta NLP dan Hipnoterapi psikologi UIN Jakarta, dan forsilamis 42) sesuai dengan yang saya harapkan. Dan ketika tulisan saya menjadi motivasi dan diterapkan dalam hidup anda maka saya secara tidak langsung, saya memimpin hidup anda dalam keseharian anda.