Maksud hati ingin ukhuwah dengan lawan jenis, tapi malah terjebak dalam pacaran.
Tadinya pengen menjalin ukhuwah islamiyah, tapi apa daya kecemplung jadi
demenan. He..he.. jangan heran atuh, sebab hubungan dengan lawan jenis itu
rentan banget disusupi oleh perasaan-perasaan lain yang getarannya lebih
dahsyat. Apalagi kalo ditambah naik bajajnya Bajuri…. dijamin tambah menggigil
karena vibrasinya kuat banget (apa hubungannya?) ?

Sobat muda muslim, sesama aktivis masjid atau organisasi kerohanian di sekolah
dan kampus, selalu saja muncul hal-hal tak terduga. Cinta lokasi (cilok…gitu
loh) kerap mewarnai perjalanan hidup mereka. Iya dong, aktivis……juga
manusia…… Jadi Wajar banget dong untuk merasakan hal-hal seperti itu.
Apalagi mereka sama-sama sering bertemu. Bukankah pepatah Jawa mengatakan,
witing tresno jalaran soko kulino sering jadi rujukan untuk menggambarkan
perasaan itu? Waspadalah….waspadalahh.!!!

Hmm… rasa cinta itu muncul karena seringnya bersama atau bertemu, begitu
maksudnya? Yup, kamu cukup cerdas dalam masalah ini. Iya, jadi jangan kaget or
heran kalo sesama aktivis pengajian muncul perasaan itu. Apalagi di antara
mereka udah saling mengetahui kebiasaan masing-masing. Dijamin perasaan
‘ser-seran’ keduanya dijembatani oleh seringnya komunikasi dan frekuensi
pertemuan. Udah deh, panah-panah asmara mulai dilepaskan dari busur
masing-masing dalam nuraninya. Duh gusti, itu artinya sang panah asmara siap
menembus hati masing-masing. Siap memekarkan bunga-bunga di taman hati mereka.
Seterusnya, jatuh hati dan saling memendam rindu. Uhuy!

Jadi, kalo nggak kuat-kuat amat imannya, kamu bakalan melakoni aktivitas pacaran
sebagaimana layaknya dilakukan oleh mereka yang masih awam sama ajaran agama.
Nggak terasa, di antara kamu mulai berani janjian untuk ketemu di masjid.yah
…biar pacarannya dibilang Islami…. Walau mungkin masih malu-malu. Tapi
jangan salah lho, jika nafsu udah jadi panglima, akal sehat kamu pasti
keroconya. Kamu lalu deklarasi, “akal sehat saatnya minggir!”. Waduh, gimana
jadinya kalo sesama aktivis malah terjebak dalam perasaan-perasaan seperti ini?
ancur deh…

Sobat muda muslim, memang ukhuwah itu tidak dibatasi cuma kepada satu jenis
manusia aja, tapi kepada dua jenis sekaligus, yakni laki dan wanita. Bahkan
ukhuwah islamiyah berdimensi sangat luas, yakni nggak dibatasi oleh waktu dan
tempat. Kapan pun dan di mana mereka berada, asal mereka adalah muslim, itu
saudara kita. Hanya saja, untuk ukhuwah dengan lawan jenis, memang ada aturan
mainnya sendiri, sobat. Nggak sembarangan, atau nggak sebebas dalam bergaulnya
seperti kepada teman satu jenis. couz dalam Islam kehidupan laki2 dan wanita itu
terpisah….(bukan dalam sholat aja…gitu loh)..ato dah pada keranjingan
sindrom Amina Waduk…eh wadud yah…???

Ketika cinta mulai menggoda
Rasa cinta itu unik. Nggak mengenal status seseorang, dan juga suka tiba-tiba
aja datang. Hadir dalam jiwa, menggerogoti hati, mengaduk-mengaduk perasaan,
yang akhirnya muncul rasa suka dan rindu. Duh, banyak pujangga yang berhasil
menorehkan kata-kata puitisnya tentang cinta. Sebab cinta itu naluriah. Pasti
dimiliki oleh seluruh manusia, termasuk hewan. Allah udah memberikan rasa itu
kepada manusia. Firman-Nya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan
kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak,” (QS Ali Imraan
[3]:14)

Nah, gimana jadinya kalo sesama aktivis pengajian muncul rasa cinta? Nggak
masalah. Sah-sah saja kok. Bahkan sangat mungkin terjadi. Itu naluriah. Cuma,
tetap harus aman dan terkendali. Nggak boleh mengganggu stabilitas nasional
(ciiee.. bahasanya pejabat banget tuh!). Iya, saat cinta menggoda, jarang yang
bisa bertahan dari godaannya yang kadang menggelapkan mata dan hati seseorang.
Jangan heran dong kalo sampe ada yang nekat pacaran. Wah, aktivis pengajian kok
pacaran?

Sobat muda muslim, itu sebabnya kamu kudu bisa jaga diri. Ukhuwah islamiyah di
antara sesama aktivis pengajian tentunya nggak dinodai dengan perbuatan yang
mencemarkan nama baik organisasi, nama baik kamu, nama baik sesama aktivis
pengajian, dan yang jelas kesucian Islam. Jangan sampe ada omongan, “aktivis
pengajian aja pacarannya kuat, tuh! Muna deh!”. Coba, gimana kalo sampe ada yang
bilang begitu? Nyesek banget kan? Jelas lebih dahsyat dari wabah SARS tuh!
Upss…

Kalo udah gitu, bisa ngerusak predikat tuh. Bener. Sebab, serangan kepada orang
yang punya predikat ‘paham agama’ lebih kenceng. Jadi kalo ada aktivis pengajian
yang pacaran, orang di sekililing mereka dengan sengit mengolok-olok, mencemooh,
bahkan mencibir sinis. Kejam juga ya? yang lebih parah …itu bisa dijadikan
dalil buat ngediriin pacaran fans club….Bandingkan dengan orang yang belum
paham agama, atau nggak aktif di organisasi kerohanian Islam, biasa-biasa aja
tuh. Sobat, inilah semacam ‘hukuman sosial’ yang kudu ditanggung seseorang yang
udah dipandang ngerti. Padahal, sama aja dosanya. Tapi, seolah lebih besar kalo
itu dilakukan oleh aktivis pengajian. Gawat!

Wajar juga sih pandangan seperti itu. Sebab, umat kan lagi nyari siapa yang
dapat ia percayai dan teladani dalam kehidupannya. Jadi, jangan khianati
kepercayaan mereka kepadamu hanya gara-gara soal cinta yang kebablasan. Sebab,
mereka menganggap bahwa kamu mampu menjaga diri dan mungkin orang lain. Nah,
kalo kemudian kamu melakukan perbuatan yang merendahkan martabatmu, rasanya
pantes banget kalo kemudian mereka nggak percaya lagi sama kamu yang aktif di
pegajian. Betul tidak…?

Sobat muda muslim, cinta seketika bisa datang menggoda, hadir dalam jiwa,
memenuhi rongga dada, dan membawa asa yang menghempaskan segala duka yang pernah
ada. Hmm.. kalo itu yang kamu rasakan, harap hati-hati. Ukhuwah di antara kamu
jangan dinodai dengan aktivitas bejat, meskipun atas nama cinta. Berbahaya.
Jangan heran kalo Kahlil Gibran pernah bikin puisi seperti ini: “Cinta berlalu
di hadapan kita, terbalut dalam kerendahan hati, tetapi kita lari darinya dalam
ketakutan, atau bersembunyi di dalam kegelapan; atau yang lain mengejarnya,
untuk berbuat jahat atas namanya”

Jaga jarak aman!
Idih, emangnya mengendarai mobil sampe dibilang jaga jarak aman? He..he..he…
jangan salah euy, justru yang berbahaya adalah karena seringnya deketen, apalagi
sampe gesekan segala (emangnya kartu kredit main gesek?).

Jaga jarak aman adalah cara ampuh menjaga hati kita untuk tidak melakukan
aktivitas berbahaya. Bukankah seringkali kamu tak berdaya jika deketan sama
orang yang kamu incer? Sebab, kalo nggak diatur dengan batasan ajaran agama,
kamu bisa kebablasan berbuat tuh. Bener. Jangan sampe kamu lakuin.

BTW, apa aja sih batasan bergaul dengan lawan jenis, khususnya sesama aktivis?
Iya, biar kita jadi ngeh, apa yang boleh dilakukan dan mana yang terlarang untuk
dilakoni. Supaya ukhuwah kita nggak bias dengan pacaran.

Pertama, kurangi frekuensi pertemuan yang nggak perlu. Memang, kalau sudah
cinta, berpisah sejam serasa 60 menit, ups… maksudnya setahun. Bawaannya
pengen ketemu melulu. It’s not good for your health, guys! Ini nggak sehat.
Perbuatan seperti itu bukannya meredam gejolak, tapi akan memperparah suasana
hati kita. Pikiran dan konsentrasi kita malah makin nggak karuan. Selain itu
bukan mustahil kalau kebaikan yang kita kerjakan jadi tidak ikhlas karena Allah.
Misal, karena si doi jadi moderator di acara pengajian, eh kita bela-belain
datang karena pengen ngeliat si doi, bukan untuk nyimak pengajiannya itu
sendiri.

Yup, kurangi frekuensi pertemuan, apalagi kalau memang tidak perlu. Kalau
sekadar untuk minjem buku catatan, ngapain minjem pada si doi, cari aja teman
lain yang bisa kita pinjam bukunya. Lagipula, kalau kamu nggak sabaran, khawatir
ada pandangan negatif dari si doi. Bisa-bisa kamu dicap sebagai ikhwan atau
akhwat yang agre (maksudnya agresif). Zwing…zwing.. gubrak!

Kedua, jangan ‘menggoda’ dengan gaya bicara dan penampilan yang gimanaa.. gitu.
Jadi, ketika kamu berbicara dengan lawan jenis harus diperhatikan intonasi dan
gaya bicaranya. Bagi wanita, jangan sekali-kali ketika berinteraksi dengan anak
cowok menggunakan gaya bicara yang mendayu-dayu kayak penyanyi dangdut. Suaranya
dibuat merdu merayu hingga menyisakan rasa penasaran yang amat sangat bagi kaum
lelaki. Wow! Firman Allah: “Jika kamu bertakwa, maka janganlah kamu terlalu
lemah lembut (mengucapkan perkataan, nanti orang-orang yang dalam hatinya ragu
ingin kepadamu. Dan berkatalah dengan perkataan yang baik. “ (QS. al-Ahzab [33]:
32)

Ketiga, menutup aurat. Nggak salah neh? Kalo aktivis kan udah ngeh soal itu
Bang? Bener. Harusnya memang begitu. Tapi, banyak juga yang belum tahu bagaimana
cara mengenakan busana sesuai syariat. Akhwatnya masih pake kerudung gaul yang
‘cepak’ abis! (kalo yang bener kan ‘gondrong’. He..he..). Iya, kerudungnya aja
modis banget. Pake lipstik lagi bibirnya. Bedakannya tebel banget pula. Minyak
wanginya? bikin lalat pada pingsan deh!

Jadi buat para akhwat, jangan tabarujj deh. Duh, kebayang banget lucunya kalo
aktivis pengajian tabarujj alias tampil pol-polan dengan memamerkan
kecantikannya. Jangan ya, Allah Swt. berfirman: “…dan janganlah kamu berhias
dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” (QS al-Ahzab
[33]: 33)

Banyak lho yang mengaku aktivis masjid tapi kelakuannya masih begitu. Jadi, mari
kita sama-sama membenahi diri kita dan juga teman-teman yang lain sesama aktivis
masjid. perubahan memang butuh proses. Tapi, kudu dimulai dari sekarang. Siap
kan? Heu-euh kudu!

Keempat, kurangi berhubungan. Mungkin ketemu langsung sih nggak, tapi komunikasi
jalan terus tuh. Mulai dari sarana ‘tradisional’ macam surat via pos, sampe yang
udah canggih macam via telepon, HP, dan juga internet. Wuih, ketemu langsung
emang jarang, tapi kirim SMS dan nelponnya kuat. Apalagi kalo urusan chatting,
pake ada jadwalnya segala. Udah gitu, kirim-kirim inbox pula. Hmm… jadi tetep
berhubungan kan? Emang sih bukan masuk kategori khalwat. Tapi kan bisa
menumbuhkan rasa cinta, suka, dan sayang? Nggak percaya? Jangan dicoba deh!
He..he..

Kelima, jaga hati. Ya, meski sesama aktivis pengajian, bisikan setan tetap
berlaku. Bahkan sangat boleh jadi makin kuat komporannya. Itu sebabnya, kalo
hatimu panas terus karena panah asmara itu, dinginkan hati dengan banyak
mengingat Allah. Mengingat dosa-dosa yang udah kita lakukan ketika sholat dan
membaca al-Quran. Firman Allah Swt.: “Ingatlah dengan mengingat Allah hati
menjadi tenang.” (ar-Ra’du [13]: 28)

Oke deh, kamu udah punya modal sekarang. Hati-hatilah dalam bergaul dengan teman
satu pengajian. Jaga diri, kesucian, dan kehormatan kamu dan temanmu. Jangan
nekat berbuat maksiat. Kalo udah TKD alias Teu Kuat Deui, segera menikah saja
(kalo emang udah mampu). Kalo belum mampu? Banyakin aktivitas bermanfaat dan
seringlah berpuasa.

Emang sih kalo pengen ideal, kudu ada kerjasama semua pihak; individu,
masyarakat dan juga negara. Hmm.. soal cinta juga urusan negara ya? Negara wajib
meredam dan memberantas faktor-faktor yang selalu ngomporin masyarakat untuk
berbuat yang nggak-nggak. Betul? Jadi, jangan sampe ukhuwah kita berubah jadi
demenan! Catet yo….? dan tetap semangat..!!!

Hak Cipta Milik Alloh Semata,
Silahkan mengcopy, menyebarkan dan mempublikasikan dalam kerangka da’wah
Semoga menjadi sumbangan berharga bagi kebangkitan umat

Lebih baik mencegah kemudharatan dari pada berbuat kebaikan.
Serendah-rendah dakwah adalah terselamatkannya hati (Ummi Sitti)