Maaf yaa kawan-kawan baru menulis kembali, karena kemarin hati saya sedang tidak terjaga dengan baik, dan insya Allah hari ini sudah terjaga kembali, ummi sering berkata kepadaku “ bahwa serendah-rendah dakwah adalah terjaganya hatimu” itulah yang menjadi sebuah motivasiku pada saat itu, dan motivasiku yang lainnya adalah lebih baik mencegah kemudharatan dibandingkan dengan berbuat kebaikan, memang tulisan saya dapat memberikan teman-teman motivasi ke dalam diri teman-teman, tetapi ketika ada seorang akhwat karena tulisan saya menjadi tidak terjaga hatinya, maka saya putuskan kemarin untuk berhenti mengirimkan tulisan saya pada FB, untuk menjaga hatinya kembali dan semoga hatinya sudah terjaga kembali. Selain karena menjaga hati juga memang ngga ada pulsa untuk main internet, hehehehe
Sekarang saya ingin bercerita ketika saya berkunjung ke makam ibu kandung saya, memang cukup sering saya mengunjungi makamnya hanya sekedar untuk membersihkan dan mendoakannya, itulah yang hanya saya bisa saya lakukan sekarang, tetapi ketika saya berada pada makam itu saya melihat sebuah keramaian di pemakaman itu, dengan bendera kuning di tangan orang-orang, tak lama kemudian bunyi mobil jenazah pun terdengar oleh kuping saya, sebuah keranda jenazah pun keluar dari mobil itu, seperti biasa acara pemakaman pun dimulai, dan tak ada yang aneh di acara pemakaman itu, tapi saya melihat ada 2 buah makam yang menjadi pertanyaan saya, 2 makam itu bersebelahan, makam itu sangat ramai ketika acara pemakaman, doa-doa peziarah yang mengikuti acara pemakaman itu pun terdengar untuk si arwah pemilik dua makam tersebut, dan ketika acara pemakaman sudah selesai, lebih banyak lagi yang berpindah ke makam itu untuk mendoakannya, mungkin peribahasa yang cocok untuk ke dua makam tersebut harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia meninggal meninggalkan nama, namanya begitu harum bagi para peziarah hingga mereka ingat akan kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan oleh pemilik dua makam tersebut, hingga mereka secara tidak sadar lebih mengutamakan dua makam itu dari pada acara pemakaman yang sedang berlangsung. Decak kagumku pada pemilik dua makam tersebut.
Acara pemakaman pun sudah selesai dan akupun kembali ke makam ibu tercinta untuk membersihkannya kembali dan mendoakannya, kemudian si penjaga makam lewat disebelahku dan menyapaku, seperti biasa canda tawa dengan penjaga makam pun aku lakukan, “Pak, disebelah makam ibu ada tanah yang kosong cukup untuk satu jenazah kembali, mungkin aku nitip sisakan tanah yang sempit ini untuk tubuhku yang kecil ini” ucapku pada seorang penjaga makam, dia pun tertawa, adik belom menikah, dan masih panjang hidupnya, dan akupun tertawa lucu, sambil melihat dan sambil menunjuk ke sikitar makam, dan berucap kepada penjaga makam lihatlah makam-makam yang ada disana, ada yang masih dalam janin tapi sudah tak bernyawa, ada yang sudah tua baru meninggal dunia, kita tidak tahu kapan kita akan di panggil dan tak ada salahnya aku menyiapkan peristirahatan terakhirku disebelah makam ibu yang tercinta, semoga aku, keluargaku, dan kita semua termasuk para pejuang/penegak dakwah dan akan dikumpulkan di syurgaMu Ya Allah bersama Rasulullah SAW. Amin.
Soal masalah mempersiapkan kematian aku selalu belajar dengan kakekku tercinta, saya kagum sekali dengannya, walaupun sekarang sudah tiada, tapi pesan yang ku dapat darinya sungguh luar biasa. Setiap kali saya pulang kampung saya sempatkan untuk berkunjung ke makam-makam leluhurku untuk sekedar membersihkan, mendoakan mereka dan mendengarkan kisah-kisah perjuangan mereka yang baik, yang diceritakan oleh ayah, aku sebagian makam memang aku hafal silsilahnya beserta kisah hidupnya, tapi aku bertanya-tanya kepada satu makam yang cukup aneh menurutku, karena tidak terdapat nama siapa pemilik makam tersebut pada nisannya, dan aku selalu bertanya pada setiap orang yang aku kenal tentang siapa pemilik makam tersebut , dan tak ada yang bisa menceritakan siapa pemilik makam tersebut, seumur hidupku aku penasaran dengan makam tersebut. Hingga aku cape dengan penasaranku.
Ketika aku sedang liburan di rumah kakakku aku mendengar berita kematian kakekku tercinta tanpa berfikir panjang dengan baju yang paspasan aku putuskan saat itu juga aku pulang kampung untuk melihat yang terakhir kalinya, tapi keputusan dari keluarga memang menyegerakan acara pemakaman, dan saya pun setuju dengan itu walaupun saat itu aku ingin sekali melihat terakhir kalinya wajah kakekku tercinta, memang perjalanan dari Jakarta ke kampung halaman cukup jauh dengan kereta tercepat pun pasti tidak keburu untuk melihatnya, ketika sampai dikampung aku dan keluarga langsung menuju kepememakaman, memang saat itu kakekku sudah dimakamkan. Aku saat melihat makamnya aku sangat KAGET dan kemarahanku pun memuncak di dalam hati. Sebuah pertanyaan besar di dalam hatiku, kenapa jenazah kakek dimakamkan di tempat yang sudah ada jenazah di dalamnya (di tempat makam yang membuatku selalu penasaran siapa pemilik makam tersebut) aku sempat mengatakan kepada ayah dengan cukup keras, “kenapa kakek dimakamkan disini, padahal tanah pemakaman masih luas dan disebelahnya masih ada tempat yang sangat lebar untuk memakamkan jenazah kakek? Seketika bapak pun berkata “sabarlah nanti dijelaskan ketika sudah sampai rumah”, ketika sudah sampai di rumah aku bersalaman dengan saudara-saudaraku yang sudah hadir terlebih dahulu. Ketika keesokan harinya, ketika mereka berkumpul, saya menanyakan pertanyaan yang ada di dalam hati saya, kenapa kakek saya dimakamkan di tempat yang sudah ada jenazahnya dan di makam itu juga yang membuat saya bingung siapa pemilik makam tersebut sebenarnya, akhirnya tanteku menjawab, bahwa pemilik makam tersebut sebenarnya adalah kakekmu, (dengan muka kaget saya mendengarnya), kok bisa (teriakku seketika). Ia sudah membuat makamnya sudah lama sekali, ditempat yang kamu bingung siapa pemilik makam tersebut. Terjawablah sudah siapa pemilik makam tersebut selama ini, jadi selama ini makam tersebut kosong belum ada pemiliknya, dan sekarang pemiliknya sudah menempatinya. Semoga kakekku termasuk orang-orang yang cerdas, karena orang-orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengingat kematiannya.
Tak hanya itu yang sudah dipersiapkannya yang sudah lama oleh kakekku, ketika kakakku berkumpul di rumah, bapak membuka pembicaraan tentang kakek, dan membawa sepotong surat yang sudah menguning dan kusam ketika aku melihatnya terlihatlah tahun 1991 tahun pembuatan surat itu,ternyata surat itu adalah surat wasiat dari kakekku untuk ke anak dan cucunya. Surat itu tertulis tahun 1991 padahal kakekku meninggal tahun 2009 berarti surat itu berumur 19 tahun, berarti ia sudah mempersiapkan kematiannya 19 tahun sebelum ia meninggalkan dunia ini.
Bekerjalah kamu seakan-akan kamu akan hidup selamanya.
Dan beribadahlah kamu seakan-akan kamu akan mati besok