Semua kita tahu air kemasan. Aqua misalnya, Ades, Prima atau 2 Tang. Sampel air kemasan yang saya sebut, masing-masing menampilkan arsitektur kemasan botol berbeda-beda. Didisain botol itu secantik mungkin untuk menggaet mata pelanggan.

Tampilan yang paling menarik sering menjerat konsumen lalu memilihnya. Setelah itu, merk dagang yang melekat melilit di bahu botol kemasan, biasanya menjadi eksekusi terakhir bagi konsumen untuk membelinya. Pada akhirnya, kecenderungan konsumen selalu membeli merk dagang yang lebih populer dan bermutu. Keduanya merupakan hasil dari riset dan kecanggihan dapur marketing produsen.

Semua fungsi air kemasan adalah sama, apapun merk dagangnya. Namun justeru merk dagang dan kemasanlah yang banyak berperan membuat satu produk air kemasan itu lebih laku di pasaran dari pada merk yang lain. Mari kita buktikan dalam angan-angan saja. Sederhana.

Andaikan kita adalah penjual air kemasan di halte, trotoar atau menjajakannya saat lalu lintas macet, ambillah lima botol air kemasan Aqua dalam ukuran sama. Buanglah kemasan dan segel dua dari lima botol itu dan jajakan. Apa yang terjadi? Saya percaya, bahwa kedua botol yang dibuang segel dan kemasannya akan sangat sulit untuk laku dijual. Padahal kita tahu kedua botol itu lahir dari ”rahim” pabrik yang sama dengan tiga kembarannya. Mengapa demikian? Sepele, tapi dampaknya luar biasa.

Menjadi Pribadai Menarik Dengan Kemasan Akhlak
Setiap sesuatu dipilih karena ia adalah yang terbaik. Terbaik dalam soal pilihan sebuah produk aksesori hidup, bergantung pada selera dan kesediaan sumber daya masing-masing orang untuk memilihnya. Kita memilih sesuatu yang terbaik terukur dari standar kesanggupan kita sendiri. Tapi dalam soal penampilan diri, setiap muslim memiliki standar yang baku dan berlaku umum yaitu akhlak.

Akhlak seperti kemasan seorang muslim. Selama akhlak masih melekat pada dirinya, maka ia mudah dikenali. Dikenali Allah dan para malaikat, dikenali oleh sesama muslim dan manusia kebanyakan. Namun apabila kemasan akhlak telah dicopot dari kepribadian seorang muslim, maka ia tidak dapat lagi dikenali identitas kemuslimannya. Orang tidak melihatnya sebagai muslim, tapi sebatas sebagai manusia kebanyakan.

Kadang tidak kita sadari, secara perlahan-lahan kita sengaja melepas akhlak sebagai kemasan sekaligus identitas kita. Tidak sedikit orang muslim malu mengucapkan salam (assaalamu’alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh) saat bertemu atau dalam acara-acara tertentu di komunitasnya. Hanya karena mereka sangat dekat dengan modernitas, mereka risih berucap salam. Sebaliknya mereka dengan amat percaya diri mengucap sapaan good morning, good afternoon, hai dan sebagainya.

Orang muslim yang tidak suka dengan doa keselamatan dan keberkahan sebagaimana ditebarkan dalam salam, adalah hal sederhana bahwa ia tengah mempreteli kemasan dirinya di hadapan Allah dan manusia. Jika dalam komunitas itu ada satu atau dua dari mereka yang kebetulan non muslim, maka amat kerdilah mereka di hadapannya. Mereka telah membuka segel kemuslimannya sehingga tak lagi nampak perbedaan antara penghuni keselamatan dan kesejahteraan dengan penghuni di luar dua hal itu.

Apatah lagi turut minum seperti apa yang mereka minum, begaul seperti mereka berinteraksi dan berlaku seperti apa yang sekehendak kesenangan mereka. Mereka tidak menyadari, jika seorang muslim sudah mencampakkan salam, tak akan ada satupun dari mereka yang akan mengembalikan identitas itu selamanya. Kecuali hidayah dan taufiqnya Allah.

Menutup aurat (hijab) adalah label seorang muslimah yang meresap sampai ke dasar iman yang kokoh. Artinya ia bukanlah sekedar label identitas diri, tetapi panggilan atas kepatuhan agar tidak menyerupakan dengan budaya a’jam.

Dari ujung utara ke selatan barat dan timur berlaku sama. Sama kemulian, kehormatan, keanggunan dan kewibawaan hijab itu di mata Allah dan dikenali oleh setiap orang. Dan semua orang tahu, bahwa menutup aurat dengan hijab, hanyalah wanita muslimah.

Maka ketika seorang muslimah membuka (maaf) paha tinggi-tinggi, menyembulkan separuh payu dara atau memperlihatkan tindik di pusernya, saat itu identitas atau labelnya tak lagi dapat dibedakan dengan Madonna, Marilyn Monroe atau Britney Spiears.

Ini sama dengan ia melempar segel yang sesuai fitrahnya lalu menggantinya dengan segel orang lain yang dipaksakan atas kehormatannya. Ia tak lagi memiliki rasa malu benteng terakhir akhlaknya.

Siapa yang hilang rasa malunya, pasti hilang pula kebahagiaannya; siapa yang hilang kebahagiaannya, pasti akan hina dan dibenci oleh manusia; siapa yang dibenci manusia pasti ia akan disakiti; siapa yang disakiti pasti akan bersedih; siapa yang bersedih pasti memikirkannya; siapa yang pikirannya tertimpa ujian, maka sebagian besar ucapannya menjadi dosa baginya dan tidak mendatangkan pahala.

Tidak ada obat bagi orang yang tidak memiliki rasa malu; tidak ada rasa malu bagi orang yang tidak memiliki sifat setia; dan tidak ada kesetiaan bagi orang yang tidak memiliki kawan. Siapa yang sedikit rasa malunya, ia akan berbuat sekehendaknya dan berucap apa saja yang disukainya.

Sebaliknya, seseorang apabila bertambah kuat rasa malunya maka ia akan melindungi kehormatannya, mengubur dalam-dalam kejelekannya, dan menyebarkan kebaikan-kebaikannya.

Akhlak adalah segel yang mengemas ujung rambut hingga ujung kaki seorang muslim. Akhlak adalah identitas kehormatan diri dan agamanya.

Bagusnya akhlak adalah cermin bagus agamanya. Buruknya akhlak, adalah tanda buruk pula agamanya “Bagi setiap agama ada akhlak. Akhlak agama Islam adalah malu,“ tegas Rasul SAW seperti diriwayatkan Imam Malik dari Zaid ibn Thalhah. Artinya rasa malu merupakan bagian yang tidak boleh terpisahkan dari diri setiap muslim. “Begitu hilang rasa malunya, maka hilang pula kepribadiannya sebagai seorang Muslim”.

Muslim yang baik adalah muslim yang memelihara segel dan identitasnya itu. Ia menjadi menarik karena segel akhlaknya. Bukan apa-apa. Percaya atau tidak, setiap orang akan ”jatuh cinta” kepada muslim yang memegang teguh akhlaknya, siapapun dia.

”Sesungguhnya orang yang paling baik diantara kalian adalah orang yang paling baik budi pekertinya”. (HR. Muslim).

Semoga masih tersisa rasa malu di setiap relung hati kita. Dan semoga menjadi hiasan akhlak dan perilaku untuk menaklukkan kejamnya matrialisme dalam setiap peradaban. Allaahu a’lam

Depok, Akhir Juli 2010.
Abdul Mutaqin